Friday, June 5, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Warga Sesalkan Tak Ada Pengawasan di Lokasi Tanah Kaplingan Tempat Tewasnya Bocah 7 Tahun

Mistar.idJumat, 2 Januari 2026 19.42
journalist-avatar-top
HH
warga_sesalkan_tak_ada_pengawasan_di_lokasi_tanah_kaplingan_tempat_tewasnya_bocah_7_tahun

Kawasan proyek pemerataan tanah, lokasi penemuan bocah 7 tahun tertimbun tanah dan meninggal dunia. (foto: hamzah/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Sejumlah warga yang bermukim di Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar menyesalkan pengerjaan pemerataan tanah yang akan dijadikan kaplingan perumahan.

Rasa kesal yang diungkapkan sejumlah warga tersebut muncul, pasca tidak adanya pengawasan terhadap pekerjaan hingga adanya bocah 7 tahun yang bernama Kenzo Alvaro meninggal dunia tertimbun tanah.

"Kalau kejadian hilangnya tanggal 31 Desember 2025. Jadi setelah hilang warga berembuk melakukan pencarian dan ditemukan pada Jumat malam, 1 Januari 2026," ujar Jumiin warga sekitar ditemui, Jumat (2/1/2026).

Menurutnya, seharusnya pihak pemborong bisa memagar kawasan proyek pemerataan tanah sehingga tidak ada orang yang bisa masuk. Namun, hal itu tidak dilakukan sehingga orang bisa masuk ke kawasan pengerjaan.

"Harusnya kan mereka pagari, ini kan tidak. Jadi anak-anak bisa masuk, cobalah mereka pagari. Tentu tidak ada orang masuk, kalau pun masuk. Salah orang yang masuk itu," katanya.

Warga lainnya juga menyampaikan hal serupa. Mereka berharap agar kejadian bocah tertimbun tanah ini tidak lagi terjadi dan pihak pemborong agar sadar, sehingga kejadian-kejadian di luar nalar tidak terjadi.

"Jadi anak itu ditemukan sekitar pukul 20.00 WIB, atau jam 8 malam. Posisinya telungkup dan tertimbun tanah, banyak warga yang mencari. Jadi setelah dikeruk tiga kali pakai beko terlihat lah kepalanya, warga langsung teriak," ujar Japar.

Pasca ditemukan, bocah tersebut langsung di bawa ke rumah sakit bersama pihak kepolisian dan juga keluarganya. Kini, bocah malang tersebut telah dikebumikan oleh sanak saudaranya di Tempat Pemakaman Umum (TPU).

"Kalau dikebumikan sudah dikebumikan tadi, polisi juga ikut ke rumah sakit malam itu. Kemarin itu memang ramai, kapolres ada juga kok sama Lurah," katanya.

Informasi dihimpun dari masyarakat sekitar, pengerjaan pemerataan tanah untuk kaplingan tersebut dikerjakan oleh seseorang yang bernama Pringadi. Saat proses pemerataan, ada dua alat yakni beko dan buldoser, serta tiga truk yang beroperasi.

Bahkan, dari cerita warga lagi, bocah malang tersebut tertimbun tanah yang berasal dari tuangan truk. Dugaannya, saat penuangan tanah, tidak ada pengawas dan hanya seorang sopir yang mengendarai truk.

Kini, kasus tersebut tengah dalam penyelidikan pihak kepolisian di Pematangsiantar. Kapolres Pematangsiantar, AKBP Sah Udur Sitinjak, menyampaikan pihaknya juga sudah menerima laporan dari orang tua korban. Di lokasi, petugas juga sudah memasang garis polisi (police line).

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN