Tuesday, October 20, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Motif Paman Aniaya Kerabat di Medan Perjuangan karena Rebutan Harta Warisan

Mistar.idSelasa, 20 Oktober 2026 pukul 15.01 WIB
motif_paman_aniaya_kerabat_di_medan_perjuangan_karena_rebutan_harta_warisan_

Rekaman Jisman saat menganiaya korban menggunakan samurai. (Foto: Medsos/Mistar)

Medan, MISTAR.ID (20/10/2026) — Terungkap motif penganiayaan yang dilakukan Jisman Nadeak dan Bachtiar Romulo Nainggolan terhadap Tomu Tarihoran karena persoalan permintaan tanda tangan. Tersangka mengaku kesal dengan korban karena hendak mengurus harta peninggalan orang tua yang baru meninggal.

Hal itu diungkapkan Kanit Resmob Polrestabes Medan, Iptu Ramadhani Bimo Setiadi, ketika dikonfirmasi, Selasa (20/10/2026).

"Jadi pengakuan pihak tersangka ini, mereka kesal. Soalnya orang tua Wahyu Ningsih Nadeak dan Sri Hartati Tresia Nadeak ini baru meninggal. Tapi mereka langsung mau mengurus soal harta," ucap Bimo.

Dijelaskannya, peristiwa penganiayaan itu terjadi saat korban Tomu Tarihoran bersama istrinya Sri Hartati Tresia Nadeak mendatangi Wahyu Ningsih Nadeak yang merupakan adik ipar korban, di Jalan Sehati, Medan Perjuangan, Jumat (25/9/2026).

Di sana, kedatangan pasutri itu tidak diterima pasangan Wahyu Ningsih Nadeak dan Bachtiar Romulo Nainggolan.

"Kedatangan korban dan istrinya untuk meminta tanda tangan adik iparnya Wahyu Ningsih Nadeak. Gunanya untuk mengurus asuransi BPJS Ketenagakerjaan almarhum orang tua mereka. Jadi seluruh ahli waris harus tanda tangan," ucap Bimo.

Pasutri itu pun kemudian diusir oleh Wahyu Ningsih Nadeak dan suaminya. Dua keluarga itu terlibat cekcok hingga di luar rumah. Saat itu juga Jisman keluar dari rumah membawa samurai dan berteriak bunuh ke arah Tomu Tarihoran.

"Korban dan istrinya diteriaki maling oleh adik ipar korban. Keributan sampai keluar rumah dan Jisman Nadeak berteriak bunuh ke arah korban sambil memegang samurai," tuturnya.

Tak cukup sampai di situ, Jisman yang merupakan paman (pak uda) dari Sri Hartati Tresia Nadeak dan Wahyu Ningsih Nadeak, memukul menantunya Tomu Tarihoran di bagian kepala, wajah, dan bibir.

"Jisman memukul menggunakan sarung samurai. Sementara Wahyu Ningsih Nadeak dan suaminya memegang tangan korban dan menendangnya," lanjutnya.

Warga yang melihat sempat melerai. Namun karena Jisman memegang samurai, warga pun mundur untuk menjaga keselamatan. Korban Tomu yang tak terima dengan penganiayaan itu membuat laporan ke Polrestabes Medan.

"Kedua pelaku sudah mengakui perbuatannya. Keduanya juga sudah kita tahan," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, tim gabungan Resmob dan Jatanras Polrestabes Medan menangkap dua pria pelaku penganiayaan dan pengancaman menggunakan samurai di Jalan Sehati, Tegal Rejo, Medan Perjuangan.

Keduanya bernama Jisman Nadeak (63) dan Bachtiar Romulo Nainggolan (44). Keduanya merupakan satu keluarga. Bahkan korban, Tomu Tarihoran (50), juga masih bagian dari keluarga kedua pelaku.(hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN