Kematian Pratu Farkhan, Kontras: Kultur Militer dan Ujian bagi Jiwa Korsa

Kepala Operasional KontraS Sumatera Utara, Adinda Zahra Noviyanti. (foto: istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kepala Operasional Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara (Sumut), Adinda Zahra Noviyanti, menilai kasus kekerasan senior di tubuh lembaga militer sudah menjadi rahasia umum.
Hal tersebut ia sampaikan menanggapi dugaan kasus kekerasan berujung kematian terhadap Pratu Farkhan, prajurit TNI yang diduga dilakukan oleh seniornya.
Adinda mengatakan beberapa kasus yang terjadi di tubuh TNI yang belakangan mencuat yang dilakukan senior terhadap junior ini berkaitan dengan perpaduan antara kultur militer yang lekat dengan kekerasan sejak masa pendidikan yang menuntut prajurit militer terbentuk menjadi 'tangguh' dan kultur militer yang hierarkis.
"Hal itu menyebabkan pembentukan 'ketangguhan' melalui kekerasan prajurit sering disertai dengan pengontrolan senior atas junior menjadi pembenaran," ujarnya.
Kondisi ini menurut Dinda menyebabkan prajurit TNI dengan pangkat rendah justru menerus menjadi korban kekerasan di tangan korps yang dibanggakannya sendiri.
Kalau dilihat dari rekam jejak penegakan hukum kasus-kasus kekerasan di dalam tubuh instansi militer, sebenarnya Peradilan Militer acap kali menjatuhkan hukuman yang cukup setimpal.
"Tapi, lagi-lagi tidak cukup hanya dengan penghukuman terhadap kasus yang telah terjadi. Akar persoalan kekerasan itu terjadi harus dibongkar," katanya.
Dinda mengatakan, harus ada evaluasi menyeluruh dan mendasar terhadap metode pembinaan dan hubungan antara senior dengan junior di dalam instansi TNI agar tidak dipenuhi dengan kekerasan yang menyebabkan kematian.
"Ini justru menjadi ujian bagi 'spirit of the corps' yang selama ini dipegang teguh TNI. Menjaga keamanan negara, menjaga kesatuan, menjaga profesionalitas. Itu harus dijalankan sebagai bagian dari reformasi TNI," tuturnya.


















