Gereja di Tapsel Tak Gelar Ibadah Minggu Akibat Bangunan Tertimbun Material Banjir

Sintua H. Sianturi memperlihatkan kondisi GKPA Desa Aek Ngadol usai diterpa banjir bandang. (foto:iqbal/mistar)
Tapsel, MISTAR.ID
Hari Minggu kali ini berbeda dari sebelumnya. Jemaat Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) Desa Aek Ngadol tidak dapat beribadah bersama akibat banjir bandang yang baru saja menerjang wilayah tersebut.
Gereja yang berada di Desa Aek Ngadol, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) itu terdampak cukup parah dari banjir bandang beberapa waktu lalu. Pada Minggu (30/11/2025), bangunan gereja masih tertimbun material lumpur sehingga tidak memungkinkan digunakan untuk peribadahan.
St. H. Sianturi, pengurus gereja, mengaku tidak menyangka musibah ini menimpa rumah ibadah mereka. “Gereja kami masih aktif. Setiap hari Minggu kami ibadah di sini dan jemaat kami sebanyak 14 KK (kepala keluarga),” ujarnya kepada Mistar sembari memperlihatkan kondisi gereja.
Rumah ibadah yang berdiri sejak 1975 tersebut merupakan salah satu dari tiga gereja yang ada di desa itu. Namun, lokasinya yang berada di belakang jalan utama membuat proses pembersihan sangat sulit.
“Gereja ada tiga di desa kami, tetapi gereja kami yang paling berdampak. Posisinya jauh dari jalan besar, jadi membersihkan lumpur sangat sulit, mau dibuang ke mana pun kami kesulitan,” jelas Sianturi.
Ia menegaskan warga tidak mampu membersihkan gereja secara manual tanpa bantuan alat berat. “Kalau manual kami tidak sanggup. Kami mohon pemerintah bantu alat berat agar kami bisa bersihkan dan kembali beribadah,” ungkapnya.
Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan kegundahannya menjelang perayaan Natal kurang dari sebulan lagi. “Menjelang Natal, kami bingung harus bagaimana. Terus terang kami sangat sedih,” ucapnya menahan haru.
Kali ini jemaat GKPA dan gereja lain di sekitar tidak menjalankan ibadah Minggu seperti biasa.
“Kami sudah koordinasi dengan pendeta. Karena semua jemaat sedang membersihkan rumah masing-masing, maka untuk hari ini kami berdoa sendiri-sendiri,” kata Sianturi.
Dirinya menyebut banjir sebesar ini belum pernah terjadi selama ia tinggal di wilayah itu. “Saya sudah 20 tahun tinggal di sini, belum pernah ada banjir seperti ini. Alat musik dan inventaris gereja semua rusak, bangku-bangku juga parah,” ujarnya.
Hingga kini bangunan gereja masih tertimbun lumpur. Ia berharap proses pembersihan dapat segera dilakukan. “Kami tergantung bantuan pemerintah. Kalau bisa sebelum Natal sudah pulih, kami sangat bersyukur,” harapnya. (hm16)





















