Supergirl (2026) Gagal Bersinar di Box Office? Ini Penyebab Film DC Berbiaya Rp2,7 Triliun Terseok

Ilustrasi, Supergirl (2026). (foto:tvtropes/cults3d/imdb/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (29/6/2026) – Harapan besar mengiringi peluncuran Supergirl (2026), film terbaru DC Studios yang diproyeksikan menjadi salah satu fondasi penting dalam pembangunan semesta baru DC Universe (DCU) di bawah arahan James Gunn dan Peter Safran.
Mengadaptasi komik populer Supergirl: Woman of Tomorrow, film ini menghadirkan Kara Zor-El dengan pendekatan yang lebih gelap dan emosional dibandingkan versi sebelumnya. Namun, alih-alih melanjutkan momentum positif yang dibangun Superman, perjalanan Supergirl justru tersendat di box office.
Dengan biaya produksi sekitar US$170 juta atau lebih dari Rp2,7 triliun, performa awal film ini dinilai belum memenuhi harapan. Lalu, seperti apa sinopsisnya dan mengapa film ini kesulitan menarik penonton?
Supergirl Hadir dengan Nuansa yang Lebih Kelam
Supergirl merupakan film bergenre aksi, petualangan, fiksi ilmiah, fantasi, dan drama yang disutradarai Craig Gillespie, sosok di balik kesuksesan I, Tonya dan Cruella.
Berbeda dengan Superman yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih di Bumi, Kara Zor-El memiliki masa lalu yang jauh lebih tragis. Ia menyaksikan kehancuran Krypton dan menjalani tahun-tahun panjang dalam kesendirian sebelum menemukan tempatnya di alam semesta.
Kisah film ini berpusat pada perjalanan Kara bersama Ruthye, seorang gadis muda yang ingin membalas kematian ayahnya. Misi tersebut membawa mereka menempuh petualangan lintas galaksi yang dipenuhi konflik, pengorbanan, dan pencarian jati diri.
Pendekatan ini membuat Supergirl tampil berbeda dari kebanyakan film DC yang identik dengan ancaman besar dan penyelamatan dunia.
Daftar Pemain Utama
Aktris Milly Alcock dipercaya memerankan Kara Zor-El atau Supergirl. Namanya dikenal luas berkat penampilannya dalam serial House of the Dragon.
Selain Alcock, film ini juga dibintangi:
- Milly Alcock sebagai Kara Zor-El/Supergirl
- Eve Ridley sebagai Ruthye
- Matthias Schoenaerts sebagai Krem
- Jason Momoa sebagai Lobo
- David Corenswet sebagai Superman
Kehadiran Jason Momoa sebagai Lobo menjadi salah satu daya tarik utama film ini. Karakter antihero tersebut telah lama dinantikan penggemar DC untuk tampil dalam versi live-action.
Bukan Sekadar Superman Versi Perempuan
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada upayanya membangun identitas Supergirl yang berbeda dari Superman.
Jika Clark Kent dikenal sebagai simbol harapan dan optimisme, Kara digambarkan sebagai sosok yang lebih keras, emosional, dan dibayangi trauma masa lalu. Pendekatan tersebut membuat film terasa lebih personal sekaligus memperlihatkan sisi psikologis karakter yang jarang dieksplorasi.
Tak sedikit penggemar komik yang menilai Woman of Tomorrow sebagai salah satu kisah Supergirl terbaik dalam dua dekade terakhir. Karena itu, ekspektasi terhadap film ini sejak awal memang sangat tinggi.
Benarkah Supergirl Gagal di Box Office?
Jawabannya, ya.
Meski mengusung anggaran produksi sekitar US$170 juta, pendapatan pembukaan global film ini disebut hanya mencapai sekitar US$68 juta. Angka tersebut berasal dari sekitar US$38 juta di Amerika Utara dan US$30 juta dari pasar internasional.
Bagi film superhero dengan biaya sebesar itu, capaian tersebut tergolong mengecewakan. Pasalnya, film beranggaran US$170 juta umumnya membutuhkan pendapatan global sekitar US$400 juta hingga US$450 juta untuk mencapai titik impas setelah memperhitungkan biaya pemasaran dan distribusi.
Karena itu, sejumlah analis menilai Supergirl menjadi salah satu pembukaan terlemah untuk film superhero beranggaran besar dalam beberapa tahun terakhir.
Mengapa Supergirl Sulit Menarik Penonton?
Antusiasme terhadap DCU Belum Sepenuhnya Pulih
Meski Superman berhasil membangun optimisme terhadap era baru DC Studios, antusiasme tersebut belum cukup kuat untuk menjamin kesuksesan film berikutnya. Banyak penonton masih memilih menunggu ulasan sebelum membeli tiket.
Respons Kritikus Kurang Meyakinkan
Film ini menerima ulasan yang beragam. Penampilan Milly Alcock dan visual kosmik mendapat pujian, tetapi sebagian kritikus menilai ceritanya belum menawarkan sesuatu yang benar-benar segar bagi genre superhero.
Akibatnya, promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) tidak berkembang sekuat yang diharapkan.
Persaingan Ketat di Bioskop
Saat dirilis, Supergirl harus bersaing dengan sejumlah film besar lain yang lebih menarik perhatian penonton umum dan keluarga. Kondisi ini membatasi peluang film untuk berkembang pada pekan-pekan awal penayangan.
Fenomena Superhero Fatigue
Industri perfilman Hollywood juga masih menghadapi fenomena superhero fatigue atau kejenuhan terhadap film superhero. Penonton kini semakin selektif dan tidak lagi datang ke bioskop hanya karena sebuah film membawa label superhero.
Cerita yang kuat, karakter yang menarik, serta pengalaman menonton yang berbeda menjadi faktor yang semakin menentukan.
Pelajaran bagi Masa Depan DC Studios
Performa Supergirl menunjukkan bahwa popularitas karakter ikonik saja tidak cukup untuk menjamin kesuksesan komersial. Di tengah persaingan industri hiburan yang semakin ketat, setiap film dituntut mampu berdiri sendiri sebagai karya yang menarik, bukan sekadar bagian dari semesta yang lebih besar.
Meski hasil box office-nya disebut mengecewakan, Supergirl tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan DC Universe. Film ini menunjukkan keberanian DC Studios mengeksplorasi cerita yang lebih emosional dan kompleks, sekaligus membuka jalan bagi karakter-karakter baru seperti Lobo yang berpotensi memiliki peran besar pada masa mendatang.
(berbagaisumber/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Modal Cekak Untung Melimpah, Film Horor Obsession (2026) Sukses Teror Penonton Global



















