Thursday, October 1, 2026
home_banner_first
HIBURAN

Robert Pattinson Jadi Chris Hansen di Primetime, Sang Tokoh Asli Malah Mengkritiknya

Mistar.idKamis, 1 Oktober 2026 pukul 12.10 WIB
robert_pattinson_jadi_chris_hansen_di_primetime_sang_tokoh_asli_malah_mengkritiknya

Robert Pattinson Jadi Chris Hansen di Primetime, Sang Tokoh Asli Malah Mengkritiknya. (foto:imdb/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (1/10/2026) — Robert Pattinson berubah menjadi Chris Hansen dalam Primetime, film terbaru A24 yang mengangkat fenomena To Catch a Predator. Namun, ketika film tersebut akhirnya ditonton sang tokoh asli, responsnya justru menjadi salah satu kontroversi terbesar di balik film ini.

Chris Hansen, jurnalis televisi yang dikenal sebagai pembawa acara To Catch a Predator, menilai karakterisasi dirinya dalam Primetime terlalu jauh dari kenyataan. Ia bahkan menyebut penggambaran Robert Pattinson sebagai versi Chris Hansen yang “terlepas dari realitas”.

Di sisi lain, Pattinson mengatakan dirinya berharap Hansen tetap bisa menikmati film tersebut. Bagi Pattinson dan sutradara Lance Oppenheim, Primetime memang tidak dibuat sebagai biopik yang merekonstruksi kehidupan Hansen secara literal.

Primetime Tentang Apa?

Primetime mengambil latar 2006 dan mengikuti Chris Hansen ketika To Catch a Predator berada di puncak perhatian publik.

Film ini disutradarai Lance Oppenheim dan dibintangi Robert Pattinson sebagai Hansen, bersama Merritt Wever, Skyler Gisondo, Phoebe Bridgers, Matthew Maher, dan Bokeem Woodbine. A24 menjadwalkan perilisan bioskop Amerika Serikat pada 25 September 2026.

Kisahnya terinspirasi dari artikel Esquire karya Luke Dittrich berjudul Tonight on Dateline This Man Will Die, yang membahas salah satu operasi To Catch a Predator pada 2006. Peristiwa tersebut melibatkan Bill Conradt, jaksa wilayah di Texas yang meninggal karena bunuh diri ketika polisi mendatangi rumahnya dalam operasi yang juga berkaitan dengan produksi program televisi tersebut.

Namun, penting dicatat: Primetime bukan dokumenter dan bukan biopik faktual Chris Hansen. A24 menyebutnya sebagai film yang “terinspirasi dari kisah nyata”.

Mengapa Chris Hansen Mengkritik Robert Pattinson?

Persoalan muncul karena Chris Hansen merasa versi dirinya dalam film terlalu didramatisasi.

Sebelum menonton film, Hansen sudah mempertanyakan pendekatan Primetime. Ia mengatakan tidak dilibatkan dalam produksi dan keberatan dengan sejumlah adegan yang menurutnya tidak menggambarkan apa yang benar-benar terjadi.

Setelah akhirnya menonton film tersebut, kritiknya menjadi lebih tajam. Hansen mengatakan sebagian besar adegan terasa seperti fiksi dan menggambarkan karakter versi Pattinson sebagai sosok yang sangat gelap serta jauh dari dirinya yang sebenarnya.

Hansen juga mempertanyakan mengapa pembuat film tidak berbicara langsung dengannya atau orang-orang yang pernah bekerja bersamanya ketika membuat cerita yang menggunakan nama dan persona dirinya.

Robert Pattinson Punya Pandangan Berbeda

Robert Pattinson tidak melihat perannya sebagai upaya meniru kehidupan Chris Hansen secara satu per satu.

Saat Primetime dipresentasikan di Festival Film Venice, Pattinson mengatakan ia berharap Hansen pada akhirnya menyukai film tersebut. Ia juga mengaku tertarik pada “daya magnet” Hansen dan bagaimana persona sang pembawa acara mampu bertahan dalam ingatan publik selama bertahun-tahun.

Menariknya, Pattinson awalnya tidak direncanakan sebagai pemeran utama. Ia terlibat dalam proyek tersebut sebagai produser, tetapi kemudian semakin tertarik memainkan karakter Hansen. Untuk mempersiapkan peran, ia mempelajari suara, aksen, gestur, serta materi To Catch a Predator.

Aktor vs Tokoh Nyata: Di Mana Batasnya?

Kontroversi Primetime memperlihatkan persoalan klasik dalam film yang mengambil inspirasi dari kisah nyata.

Ketika sebuah film menggunakan tokoh yang masih hidup, ada dua kepentingan yang bisa bertabrakan: kebebasan artistik pembuat film dan persepsi orang yang kisah hidupnya dijadikan bahan cerita.

Chris Hansen melihat karakter tersebut dari pengalaman pribadinya. Sementara itu, pembuat Primetime menggunakan Hansen sebagai bagian dari cerita yang lebih luas mengenai televisi, sensasionalisme, jurnalistik, dan batas antara pemberitaan dengan hiburan.

Karena itu, perbedaan antara Chris Hansen yang nyata dan Chris Hansen versi Robert Pattinson bukan sekadar soal kemiripan fisik atau suara. Persoalannya adalah seberapa jauh sebuah film boleh mengubah persona tokoh nyata demi kepentingan dramatisasi.

Pattinson Awalnya Hanya Produser

Salah satu fakta menarik di balik Primetime, Robert Pattinson sebenarnya tidak sejak awal dipersiapkan untuk memerankan Chris Hansen.

Pattinson terlebih dahulu bergabung sebagai produser. Namun, selama pengembangan film, ia semakin terikat dengan karakter tersebut hingga akhirnya memutuskan mengambil peran utama.

Keputusan itu membuat Primetime memiliki daya tarik tambahan: aktor yang dikenal luas lewat Twilight dan The Batman kini memainkan sosok nyata yang identik dengan salah satu fenomena true crime paling kontroversial di televisi Amerika.

Kapan dan di Mana Primetime Ditayangkan?

Primetime melakukan world premiere di Festival Film Venice pada September 2026 dan kemudian dirilis secara teatrikal di Amerika Serikat pada 25 September 2026.

Film berdurasi sekitar 110 menit ini didistribusikan oleh A24 dan diarahkan Lance Oppenheim sebagai debut film naratif panjangnya.

Untuk penonton Indonesia, jadwal penayangan bioskop dan ketersediaan streaming perlu mengikuti pengumuman distributor lokal.

Bukan Sekadar Film tentang Chris Hansen

Pada akhirnya, daya tarik Primetime bukan hanya terletak pada Robert Pattinson yang memerankan Chris Hansen.

Film ini membawa kembali pertanyaan yang lebih besar tentang To Catch a Predator: ketika investigasi kriminal dikemas menjadi tontonan televisi, di mana batas antara jurnalistik, penegakan hukum, dan hiburan?

Di situlah kontroversi antara Pattinson dan Hansen menjadi relevan. Bagi sang aktor dan pembuat film, Hansen merupakan persona televisi yang menarik untuk dieksplorasi. Bagi Hansen sendiri, persoalannya jauh lebih personal karena sosok yang muncul di layar menggunakan nama dan citra dirinya.

Dan mungkin justru di situlah Primetime menjadi menarik: film tentang seseorang yang membangun persona di depan kamera, kemudian bertahun-tahun setelahnya harus melihat orang lain memainkan versi dirinya sendiri.

(variety/a24films/thewrap/screendaily/magazine/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN