Kontroversi Dangdut Academy 7 Indosiar Usai Video Viral Diduga Lecehkan Tauhid

Logo Dangdut Academy 7. (foto:wikipedia/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Acara Dangdut Academy 7 (DA7) Indosiar kembali menjadi perbincangan publik setelah sebuah cuplikan video penampilan di panggung kompetisi tersebut viral di berbagai platform media sosial.
Fenomena ini bukan karena penampilan peserta atau persaingan kompetisi, melainkan aksi seorang bintang tamu yang dianggap memicu kontroversi di kalangan warganet.
Video yang ramai dibagikan memperlihatkan sosok Boger Bojinov, seleb TikTok yang dikenal tampil energik dalam berbagai acara hiburan. Dalam cuplikan tersebut, Boger terlihat naik ke panggung DA7 dan melakukan joget ala goyang ngebor. Pada awalnya, gerakan tersebut tampak sebagai bagian dari hiburan biasa.
Namun perhatian publik justru tertuju pada musik pengiring yang diputar saat Boger beraksi. Nada musik tersebut dianggap mirip dengan lantunan qasidah “Lailahaillallah”, salah satu kalimat tauhid yang memiliki posisi sangat sakral dalam ajaran Islam. Banyak warganet menilai penggunaan musik yang menyerupai lantunan religi tersebut tidak pantas jika dipadukan dengan bentuk hiburan yang dianggap terlalu bebas. Di sinilah kontroversi mulai muncul.
Komentar bernada kritik hingga tudingan pelecehan terhadap kalimat tauhid membanjiri ruang digital seperti TikTok, X, dan Instagram. Cuplikan itu pun cepat menyebar dan memantik diskusi publik.
Kontroversi tersebut ternyata juga disadari oleh tim produksi di panggung DA7. Dalam cuplikan yang beredar, Gilang Dirga, salah satu MC, terdengar meminta band pengiring menghentikan musik dan menggantinya dengan lagu lain yang lebih sesuai. Hal tersebut dianggap sebagai upaya cepat untuk mencegah kesalahpahaman yang berpotensi melebar ke isu sensitif.
Gestur cepat itu dinilai sebagian warganet sebagai bentuk tanggung jawab pihak acara dalam menjaga kenyamanan penonton.
Indosiar Sampaikan Permohonan Maaf
Setelah reaksi publik semakin membesar, Indosiar menyampaikan pernyataan resmi. Mereka menegaskan bahwa kejadian tersebut murni akibat kesalahan koordinasi internal, bukan tindakan disengaja atau memiliki tujuan melecehkan unsur agama.
Indosiar menjelaskan bahwa musik tersebut seharusnya hanya bagian kecil dari opening, namun karena kesalahan teknis, bagian yang tidak seharusnya tayang justru terputar. Indosiar menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pemirsa dan masyarakat Indonesia dan menekankan bahwa tidak ada unsur kesengajaan.
Meski klarifikasi telah disampaikan, perdebatan di media sosial masih berlangsung. Sebagian warganet memahami kejadian itu sebagai kesalahan teknis dalam siaran langsung, namun sebagian lainnya menilai hal tersebut harus menjadi evaluasi serius.
Tanggapan FUUI: Dugaan Pelecehan dan Desakan Proses Hukum
Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), KH Athian Ali M. Da’i, menilai tayangan tersebut merupakan bentuk pelecehan terhadap Islam. Ia menyatakan bahwa tindakan itu merupakan penghinaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW karena lantunan kalimat tauhid digunakan di tengah tarian yang dinilai tidak pantas.
“Harus segera ada langkah hukum, jangan menunggu umat Islam marah,” tegasnya di Bandung, Jumat (28/11/2025).
KH Athian meminta pihak penyelenggara meminta maaf secara terbuka kepada seluruh umat Islam serta menuntut adanya proses hukum agar kejadian serupa tidak terulang.
Ia juga mengingatkan bahwa tindakan seperti ini berpotensi memecah belah umat dan memicu amarah publik. Bahkan ia menyebut bahwa pola seperti ini pernah digunakan oleh pihak tertentu untuk menciptakan kegaduahan di masa lalu.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia hiburan nasional, sensitivitas terhadap unsur budaya dan keagamaan harus menjadi prioritas utama. Setiap detail produksi, mulai dari musik pengiring hingga interaksi pengisi acara, harus melalui koordinasi matang.
Dengan klarifikasi yang telah diberikan, publik diharapkan dapat memahami bahwa insiden tersebut bukan dilakukan dengan niat tertentu. Banyak warganet berharap agar kasus ini tidak semakin diperbesar, mengingat kompetisi DA7 masih berlangsung dan banyak talenta muda membutuhkan dukungan positif.
Kontroversi ini sekaligus menunjukkan bahwa di era digital, setiap detik siaran memiliki dampak besar dan dapat viral kapan saja. (hm16)















