Hadir di Medan, Festival Sinema Australia Indonesia 2026 Tampilkan Karya Dua Negara

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier dan Yuh Rohana Meliala, produser film pendek Bulan di Tepian Surga. (foto: Susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) kembali digelar pada 2026 dengan membawa film-film kontemporer dari Australia dan Indonesia ke 11 kota di Tanah Air, termasuk Medan.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, mengatakan festival tersebut menjadi wadah mempererat hubungan budaya kedua negara melalui perfilman.
Di Medan, festival ini dibuka dengan penayangan Beyond The Reef, yang menayangkan petualangan Shuang Hu ke salah satu lokasi paling unik dan menampilkan keindahan alam, yaitu Great Barrier Reef.
“Industri ini masih muda ya di Indonesia. Jadi ke depan, harapan saya Indonesia dan Australia akan bekerja sama lebih erat lagi di industri perfilman, khususnya untuk film-film yang ada sineas dari Australia dan Indonesia bekerja sama untuk memproduksikan film bersama,” ujarnya di CGV Focal Point Medan, Rabu (13/5/2026) malam.
FSAI 2026 digelar di Jakarta, Manado, Makassar, Semarang, Medan, Surabaya, Banjarmasin, Bogor, Yogyakarta, Kupang, dan Mataram. Festival ini menampilkan lima film Australia, dua karya alumni Australia di Indonesia, serta empat film pendek Indonesia karya Australian Alumni Awards.
Selain itu, festival ini juga menghadirkan masterclass sinematografi dan produksi dokumenter bersama sineas Australia, di antaranya Andrew Commis, yang terlibat dalam film The Force of Nature: The Dry 2, serta Associate Professor Michelle Johnston dari Curtin University.
Sebelumnya, kegiatan juga diawali dengan pemutaran film pendek Bulan di Tepian Surga yang diproduseri Yuh Rohana Meliala. Yuh menjelaskan film tersebut merupakan proyek penghargaan dari sutradaranya saat mengikuti short course Australia Awards tahun 2025 di Griffith Film School.
Menurutnya, kerja sama produksi dimulai setelah ia tertarik pada naskah yang dipresentasikan sang sutradara, lalu keduanya sepakat menggarap film tersebut bersama. Ia menyebut proses produksi berlangsung sekitar tiga bulan, terdiri dari persiapan, syuting, dan pascaproduksi. Film itu juga memperoleh dana hibah dari Kementerian Kebudayaan.
Film tersebut mengangkat keresahan sutradara yang merupakan warga Bali, terkait banyaknya anak muda setempat yang memilih bekerja ke luar negeri.
“Kenapa orang-orang datang ke Bali, tapi orang Balinya malah ingin keluar. Itu yang ingin disuarakan lewat film ini,” ucap Yuh kepada media.
Ia menambahkan tantangan utama selama produksi adalah proses adaptasi saat syuting di Bali, terutama terkait lokasi, logistik, dan transportasi.























