Wednesday, October 14, 2026
home_banner_first
HIBURAN

Arie Kriting Singgung FFI soal Representasi Orang Timur di Film Indonesia

Mistar.idRabu, 14 Oktober 2026 pukul 10.40 WIB
arie_kriting_singgung_ffi_soal_representasi_orang_timur_di_film_indonesia

Arie Kriting. (Foto: Instagram @arie_kriting)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Komika sekaligus aktor Arie Kriting mengkritik penyelenggaraan Festival Film Indonesia (FFI) terkait representasi karakter dan aktor asal Indonesia Timur dalam perfilman nasional. Ia menilai karakter orang Timur masih kerap digambarkan melalui stereotip sempit dan kurang mendapat apresiasi secara proporsional.

Kritik tersebut disampaikan Arie melalui unggahan di akun media sosial pribadinya. Ia mempertanyakan pandangan yang seolah-olah mengharuskan karakter dari Indonesia Timur digambarkan sebagai sosok yang miskin, tertindas, atau mengalami kekerasan agar dianggap layak mendapat pengakuan.

“Apakah karakternya harus miskin, tersiksa, atau diperkosa dulu baru dianggap? Karena seperti itu definisi yang hadir di kepala banyak orang kota ini ketika bicara tentang Orang Timur,” tulis Arie.

Dalam unggahannya, Arie secara khusus menyoroti akting Irma Rihi yang memerankan Mak Marie dalam film Na Willa. Menurutnya, karakter ibu yang diperankan Irma tampil natural sebagai sosok ibu pada umumnya tanpa kehilangan identitas khas Indonesia Timur.

“Memangnya kenapa kalau berperan sebagai Ibu pada umumnya seperti yang dimainkan oleh Irma Rihi di film Na Willa itu?” tulisnya.

Arie pun berharap penampilan Irma dapat dipertimbangkan dalam nominasi FFI tahun ini. Ia menilai perspektif penilaian terhadap karakter di layar lebar perlu diperluas agar tidak terpaku pada gambaran tertentu mengenai masyarakat dari daerah.

Selain representasi karakter, Arie menyoroti standar penilaian terhadap penggunaan dialek daerah dalam film. Ia menilai aktor dari kota besar kerap mendapat pujian ketika menirukan logat Indonesia Timur, meskipun penggunaan dialeknya tidak selalu sesuai dengan latar daerah yang diceritakan.

Ia mencontohkan penggambaran lokasi di Sumba yang justru menggunakan dialek Ambon atau Papua. Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan pentingnya pemahaman yang lebih mendalam terhadap identitas dan keragaman budaya daerah dalam perfilman.

Meski menyampaikan kritik, Arie menegaskan bahwa penentuan nominasi merupakan kewenangan penuh dewan juri. Ia menyebut unggahannya bukan untuk menggugat hasil penjurian, melainkan memberikan masukan agar penilaian terhadap karakter film menjadi lebih luas dan beragam.

“Tentu saja ini cuma pendapat saya pribadi. Tapi saya yakin insan perfilman pasti terbuka dengan pendapat, masukan dan saran,” tulisnya.

Arie juga mengajak pihak-pihak yang terlibat dalam penjurian FFI untuk kembali mendiskusikan perspektif terhadap karakter daerah agar tidak hanya melihatnya dari sisi permukaan.

Ia menutup catatannya dengan mengutip pesan dari film Ratatouille bahwa seniman hebat dapat datang dari mana saja. Menurutnya, prinsip tersebut penting untuk mewujudkan FFI yang mampu merepresentasikan keberagaman Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Unggahan Arie mendapat dukungan dari sejumlah insan perfilman. Sutradara Kamila Andini turut menyoroti tidak masuknya nama Irma Rihi, Gina S. Noer, dan Elisabeth Sisauta dalam daftar nominasi tahun ini.

Sementara itu, komika sekaligus sutradara Ernest Prakasa menyatakan dukungannya terhadap pandangan Arie dan menilai Irma Rihi sangat layak menjadi nomine FFI.

Sutradara Na Willa, Ryan Adriandhy, juga menyampaikan terima kasih atas pandangan yang disampaikan Arie. Dukungan turut datang dari Bene Dion dan Ibnu Jamil. (hm25/cnn Indonesia)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN