Monday, July 6, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Tangan-Tangan Kecil di Balik Ketahanan Pangan Indonesia

Mistar.idSenin, 18 Mei 2026 pukul 23.25 WIB
tangantangan_kecil_di_balik_ketahanan_pangan_indonesia

Suasana salah satu RPK yang ada di Pasar Petisah Kota Medan, Rabu, (13/5/2026). (foto: Mistar.id/Naomi)

news_banner

Sudah lebih dari lima tahun pria berusia 53 tahun itu menjadi mitra Rumah Pangan Kita (RPK), program distribusi pangan milik Perum Bulog. Sebelum bergabung menjadi RPK, Suwarno hanya menjual santan kelapa dan sembako biasa. Namun gejolak harga pangan yang sering terjadi membuatnya berpikir untuk ikut membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga yang lebih stabil.

"Dulu masyarakat resah cari barang ke mana-mana karena harga tinggi. Makanya saya bergabung dengan Bulog supaya bisa membantu masyarakat dan mendukung program pemerintah," katanya.

Suwarno mengaku sebelum menjadi mitra Bulog, kondisi pasar sering kali tidak menentu. Harga bahan pokok melonjak, sementara masyarakat kesulitan mencari barang dengan harga terjangkau. Situasi itu membuat keresahan semakin terasa di tengah ekonomi yang sulit.

Melalui RPK, Suwarno menjual beras SPHP dan minyak goreng dengan harga yang tetap mengikuti ketentuan pemerintah. Meski keuntungan yang diperoleh tidak besar, ia merasa bangga karena bisa membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih murah dibandingkan pasaran.

“Sedikit, tapi pasti bisa membantu masyarakat,” katanya.

Setiap minggu, tokonya menerima pasokan hingga ratusan karton minyak goreng dan beberapa ton beras dari Bulog. Produk-produk itu sering kali cepat habis karena tingginya minat masyarakat. Banyak pembeli sengaja datang karena mengetahui harga di tokonya lebih terjangkau.

Kini, di tokonya, Suwarno menjual beras SPHP lima kilogram seharga Rp60 ribu dan minyak goreng Rp16 ribu per liter sesuai ketentuan pemerintah. Keuntungan yang diperoleh memang tidak besar, tetapi baginya ada kepuasan tersendiri ketika masyarakat masih bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

"Kita boleh cari untung, tapi bisa membantu masyarakat dan jangan menyusahkan," ujarnya.

Bahkan, menurut Suwarno, kehadiran RPK turut membantu pedagang kecil lainnya. Beberapa pedagang yang belum terdaftar sebagai mitra Bulog memilih mengambil barang darinya agar tetap bisa menjual dengan harga yang terjangkau kepada masyarakat.

RPK Ubah Hidup Rensius

Hal serupa juga dirasakan Rensius Pasaribu, pemilik RPK di Pematangsiantar. Perjalanan Rensius bersama Bulog dimulai dari titik hidup yang jauh lebih sulit.

Lulusan Universitas Sumatera Utara itu sempat mencoba berbagai usaha setelah kuliah. Ia pernah membuka bisnis transportasi daring, namun pandemi COVID-19 membuat usahanya hancur. Kondisi itu membuatnya mengalami tekanan berat hingga sempat mengurung diri selama berbulan-bulan.

"Hancur lebur. Hampir gila, hampir bunuh diri, mengurung diri di kamar enam bulan," ungkapnya mengenang masa sulit itu.

Titik balik hidupnya datang ketika ia memutuskan membantu usaha orang tuanya yang telah lama berdagang beras. Dari bekas kantor usaha transportasinya, Rensius mulai membuka RPK dan bermitra dengan Bulog pada 2022.

“Kalau nggak ada Bulog, mungkin saya sampai sekarang di kolong jembatan,” ungkapnya, Jumat (15/5/2026).

Bukan hanya dirinya yang merasakan dampak ekonomi dari kemitraan dengan Bulog. Rensius juga membantu pedagang kecil lain menjadi bagian dari jaringan distribusi pangan murah. Ia memasok barang kepada warung-warung kecil yang kesulitan modal.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN