Monday, July 6, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Tangan-Tangan Kecil di Balik Ketahanan Pangan Indonesia

Mistar.idSenin, 18 Mei 2026 pukul 23.25 WIB
tangantangan_kecil_di_balik_ketahanan_pangan_indonesia

Suasana salah satu RPK yang ada di Pasar Petisah Kota Medan, Rabu, (13/5/2026). (foto: Mistar.id/Naomi)

news_banner

“Banyak masyarakat yang terbantu sama Bulog ini,” katanya.

Menurutnya, kehadiran Bulog bukan hanya membantu masyarakat mendapatkan pangan murah, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi baru di tengah masyarakat kecil. Bagi masyarakat kecil, keberadaan RPK sering kali menjadi penolong saat harga pangan naik.

Bantu Pengeluaran Rumah Tangga

Sejumlah warga mengaku lebih memilih membeli kebutuhan pokok di RPK karena harganya lebih murah dan stoknya lebih jelas. Salah seorang warga di sekitar Pasar Petisah, Andri, mengatakan keberadaan RPK membantu pengeluaran rumah tangganya.

"Kalau di tempat lain kadang mahal, tapi di RPK masih ada yang lebih murah, lumayan membantu untuk kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Keberadaan RPK seperti milik Suwarno dan Rensius menjadi salah satu ujung tombak Bulog dalam menjaga stabilitas pangan di tengah ancaman inflasi dan kenaikan harga bahan pokok.

Memasuki usia ke-59 tahun, Perum Bulog tidak lagi hanya dikenal sebagai lembaga penyimpan beras pemerintah, tetapi juga hadir langsung melalui jaringan distribusi yang menyentuh masyarakat.

RPK Pastikan Masyarakat Dapat Akses Pangan

Budi Cahyanto selaku Pimpinan Wilayah Perum Bulog Sumut, menjelaskan bahwa RPK kini telah tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Tujuannya sederhana memastikan masyarakat mendapatkan akses pangan dengan harga yang stabil.

"Prinsipnya, makin banyak pengecer akan semakin baik," ujarnya, Rabu (13/5/2026).

Dampak itu ternyata tidak berhenti di tingkat pedagang dan pembeli. Di balik distribusi beras Bulog, ada banyak pekerja gudang yang ikut menggantungkan hidupnya pada aktivitas pangan nasional.

Warni seorang ibu rumah tangga menceritakan bagaimana para buruh gudang Bulog Pematangsiantar bekerja mengemas ulang beras dari karung besar menjadi kemasan SPHP lima kilogram yang kemudian disalurkan kepada masyarakat. Pekerjaan itu membuka kesempatan ekonomi bagi banyak warga, termasuk ibu-ibu pekerja harian.

“Yang mengemas itu semua buruh-buruh di sekitar sini juga. Ibu-ibu juga ada. Saya dan keluarga sangat terbantu juga secara ekonomi,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).

Di gudang-gudang Bulog, proses pengelolaan beras dilakukan dengan standar ketat agar kualitas pangan tetap terjaga. Pemimpin Wilayah Bulog Sumatera Utara, Budi Cahyanto, menjelaskan bahwa perawatan stok dilakukan secara berkala, mulai dari menjaga sirkulasi udara gudang, sistem first in first out, hingga pengendalian hama dan pemeriksaan laboratorium.

“Beras ini barang hidup, jadi kualitasnya harus terus dijaga,” katanya.

Menurut Budi, Bulog juga terus memperluas pemerataan stok pangan di Sumatera Utara dengan penambahan gudang di berbagai daerah. Langkah itu penting agar distribusi pangan semakin cepat dan merata, terutama di wilayah yang jauh dari pusat kota.

Selain menjaga stok, Bulog juga berupaya memberi kepastian kepada petani melalui penyerapan gabah dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah. Kepastian harga itu dinilai penting agar petani tetap semangat menanam dan tidak khawatir hasil panennya tidak terserap pasar.

“Petani merasa aman karena Bulog membeli dengan harga yang layak,” ujar Budi.

Bulog Penghubung Harapan Masyarakat Kecil

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai keberadaan RPK Bulog sangat strategis dalam menjaga stabilitas pangan nasional.

“RPK mampu menjadi alat kontrol harga pemerintah selama pasokan tersedia dan harga tetap sesuai ketentuan,” ujarnya, Senin (18/5/2026).

Ia juga menilai Bulog berhasil menjaga stabilitas harga beras meski harga gabah di tingkat petani mengalami kenaikan.

Di tengah ancaman krisis pangan global, inflasi, dan tekanan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat, peran Bulog hari ini menjadi semakin relevan. Bulog tidak hanya hadir sebagai institusi negara yang menyimpan cadangan pangan, tetapi juga sebagai penghubung harapan bagi masyarakat kecil.

Dari petani, buruh gudang, pedagang pasar, hingga masyarakat yang membeli beras murah untuk kebutuhan sehari-hari, semuanya menjadi bagian dari rantai panjang ketahanan pangan Indonesia.

Selama 59 tahun, Bulog telah membuktikan bahwa menjaga pangan bukan sekadar menjaga stok beras di gudang. Lebih dari itu, Bulog turut menjaga keberlangsungan hidup jutaan masyarakat Indonesia dan memastikan masa depan bangsa tetap berdiri di atas ketahanan pangan yang kuat.

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN