Tangan-Tangan Kecil di Balik Ketahanan Pangan Indonesia

Suasana salah satu RPK yang ada di Pasar Petisah Kota Medan, Rabu, (13/5/2026). (foto: Mistar.id/Naomi)
Medan, MISTAR.ID
Kenaikan harga bahan pokok masih menjadi kekhawatiran banyak masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Harga beras yang terus berfluktuasi, biaya hidup yang meningkat, hingga ketidakpastian ekonomi membuat sebagian warga harus semakin cermat mengatur pengeluaran rumah tangga.
Di tengah kondisi itu, kebutuhan paling mendasar tetap sama memastikan dapur tetap mengepul dan keluarga tetap bisa makan dengan layak. Bagi masyarakat kecil, stabilitas pangan bukan sekadar urusan angka inflasi atau stok beras nasional.
Stabilitas pangan adalah tentang apakah mereka masih mampu membeli beras untuk esok hari. Di pasar-pasar tradisional, masyarakat kini semakin sensitif terhadap perubahan harga. Selisih seribu hingga dua ribu rupiah dapat menentukan pilihan mereka untuk membeli atau menunda kebutuhan rumah tangga.
Dalam situasi seperti inilah kehadiran Perum Bulog terasa semakin penting. Selama 59 tahun berdiri, Bulog tidak hanya menjadi lembaga penyimpan cadangan beras pemerintah, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Dari gudang penyimpanan hingga kios kecil di sudut pasar, Bulog hadir memastikan pangan tetap tersedia dan terjangkau bagi masyarakat.
Menyentuh Kehidupan Masyarakat Kecil
Peran itu terlihat di sebuah kios sederhana milik Suwarno di Pasar Petisah, Kota Medan. Sejak pagi, warga datang silih berganti mencari beras SPHP (Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan) dan minyak goreng dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga pasaran.
Suwarno menjadi salah satu saksi bagaimana peran Bulog menyentuh kehidupan masyarakat kecil. Pedagang sembako berusia 53 tahun itu telah lama menjadi mitra Rumah Pangan Kita (RPK) Bulog. Baginya, bergabung dengan Bulog bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan bentuk dukungan terhadap masyarakat yang sedang kesulitan.
“Tujuannya untuk membantu masyarakat supaya bisa belanja lebih murah,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Beberapa ibu rumah tangga menanyakan minyak goreng, sebagian lainnya mencari beras SPHP yang harganya lebih murah dibandingkan toko lain.
"Kalau produknya datang, masyarakat senang. Tapi kalau stok habis, mereka langsung tanya, ‘Pak Suwarno, kok nggak ada lagi," ujar Suwarno sambil tertawa kecil.
PREVIOUS ARTICLE
Soal Rupiah Anjlok ke Rp17.600, Begini Respons Menkeu Purbaya















