Rupiah Tertekan, Dolar Singapura Tembus Rp14.100 dan Ringgit Malaysia Menguat

Dolar Singapura dan rupiah. (Foto: Batam Pos/F.Chahaya Simanjuntak)
Jakarta, MISTAR.ID – Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan dari sejumlah mata uang asing. Pada perdagangan Kamis (22/10/2026), dolar Singapura menguat hingga menembus level Rp14.100, sementara ringgit Malaysia juga mencatatkan penguatan terhadap mata uang Garuda.
Berdasarkan data Investing, dolar Singapura menguat 0,10% atau 13,74 poin ke posisi Rp14.131,70. Sepanjang perdagangan hari ini, mata uang tersebut diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp14.084,99 hingga Rp14.133,11.
Pada awal perdagangan, dolar Singapura tercatat berada di level Rp14.117,96. Sementara itu, rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di posisi Rp18.047 pada pukul 10.25 WIB.
Penguatan juga terjadi pada ringgit Malaysia. Mata uang Negeri Jiran tersebut tercatat naik 3,05% terhadap rupiah hingga mencapai Rp4.421 pada perdagangan pagi ini.
Jika dilihat berdasarkan periode pergerakannya, ringgit menguat 0,88% secara bulanan dan naik 0,70% dalam sepekan terhadap rupiah.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga terlihat dari pergerakan dolar AS. Mengacu data Bloomberg, dolar AS menguat 25 poin atau 0,14% terhadap mata uang Garuda.
Pada pembukaan perdagangan, dolar AS sudah naik 0,09% ke level Rp18.039. Posisi tersebut lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.022.
Penyebab Rupiah Melemah
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal. Faktor tersebut antara lain meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang semakin ketat, serta sentimen investor asing di pasar saham.
Destry menjelaskan, pada 20 Oktober 2026 nilai tukar rupiah tercatat sebesar Rp17.985 per dolar AS. Angka tersebut melemah 0,61% secara point-to-point dibandingkan posisi akhir September 2026.
"Nilai tukar rupiah pada 20 Oktober 2026 tercatat berada di level Rp 17.985 per dolar AS atau melemah 0,61% point-to-point, 0,61% point-to- point dibandingkan dengan akhir September 2026. Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan moneter di Amerika Serikat yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham," ujarnya dalam konferensi pers hasil RDG di kantor BI, Jakarta, Rabu (21/10/2026), dilansir dari detikFinance.
Meski demikian, BI memastikan akan terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui optimalisasi berbagai instrumen kebijakan moneter.
Salah satu langkah yang disiapkan yakni memperkuat insentif untuk mendorong masuknya investasi portofolio asing. Selain itu, BI juga akan mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (valas).
"Memperkuat kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas," ucapnya. (Detik)
PREVIOUS ARTICLE
Danantara Mulai Borong Saham di Tengah Gejolak Pasar








































