Friday, October 23, 2026
home_banner_first
EKONOMI

OJK Cegah Rekening Program Satu Orang Satu Rekening Jadi Dormant, Nasabah Bakal Dibimbing

Mistar.idJumat, 23 Oktober 2026 pukul 09.44 WIB
ojk_cegah_rekening_program_satu_orang_satu_rekening_jadi_dormant_nasabah_bakal_dibimbing

Ilustrasi buku rekening bank (Foto: Istimewa/Mistar)

Jakarta, MISTAR.ID - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan sejumlah strategi untuk memastikan rekening yang dibuka melalui program Satu Orang Satu Rekening tetap aktif dan tidak berstatus dormant atau rekening pasif. Upaya ini dilakukan melalui edukasi serta pendampingan keuangan kepada masyarakat, termasuk nasabah usia muda.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat dalam menggunakan rekening perbankan. Menurutnya, rekening yang tidak digunakan secara optimal berisiko kehilangan manfaatnya dan berpotensi disalahgunakan untuk aktivitas keuangan ilegal, termasuk pinjaman online (pinjol) ilegal.

Karena itu, OJK terus mendorong masyarakat agar aktif menggunakan rekening yang dimiliki.

"Makanya terus kami lakukan edukasi supaya rekening-rekening yang dimiliki masyarakat terus aktif," ujar Friderica setelah menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026).

OJK Dorong Keberlanjutan Rekening Pelajar

Salah satu langkah yang dioptimalkan OJK adalah program Satu Rekening Satu Pelajar melalui produk Simpanan Pelajar (SimPel). Berdasarkan catatan OJK, sebanyak 88 persen pelajar di Indonesia telah mempunyai rekening tabungan.

Meski kepemilikan rekening di kalangan pelajar sudah cukup luas, OJK menilai tantangan berikutnya adalah memastikan rekening tersebut terus digunakan dan memberikan manfaat nyata bagi pemiliknya.

Friderica, yang akrab disapa Kiki, menjelaskan bahwa edukasi dan pendampingan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Dengan begitu, rekening yang dibuka sejak usia sekolah tidak berhenti digunakan setelah pemiliknya beranjak dewasa.

OJK pun menyiapkan skema pendampingan yang menyesuaikan kebutuhan nasabah seiring bertambahnya usia.

Rekening SimPel Bisa Berlanjut ke Simpanan Pemuda

Dalam skema tersebut, rekening Simpanan Pelajar dapat dilanjutkan melalui produk Simpanan Pemuda (SiMuda) ketika nasabah memasuki usia yang lebih dewasa.

Melalui SiMuda, generasi muda diharapkan mulai membangun kebiasaan mengelola keuangan secara lebih terarah. Tabungan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masa depan, menyiapkan pembelian properti, hingga berinvestasi pada instrumen seperti reksa dana.

"Nanti bisa pindah dari SimPel bisa ke SiMuda. Kalau SiMuda itu, Simpanan Pemuda itu bisa nanti dia mau apa, bisa sebagian disisihkan untuk beli properti, atau masuk ke reksa dana dan lain-lain. Jadi harapannya tabungan-tabungan ini nemenin anak-anak ini dari mulai sekolah sampai nanti dewasa. Makanya harus dibimbing supaya enggak jadi dormant," kata Friderica.

Melalui pendekatan tersebut, OJK berharap masyarakat tidak sekadar memiliki rekening untuk memenuhi target inklusi keuangan, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk menabung, merencanakan kebutuhan jangka panjang, dan mengakses layanan keuangan secara bertanggung jawab.

Pemerintah Siapkan Rp 1,28 Triliun untuk Program Satu Orang Satu Rekening

Sebelumnya, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp 1,28 triliun untuk mendukung program Satu Orang Satu Rekening. Program ini dirancang untuk memperluas akses layanan perbankan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan menyediakan setoran awal sebesar Rp 50.000.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa program tersebut menyasar sekitar 25 juta penduduk berusia di atas 17 tahun yang masuk kelompok desil 1 hingga 4.

Pemerintah berharap kebijakan ini dapat meningkatkan inklusi keuangan nasional dari sekitar 93 persen menjadi mendekati 99 persen.

"Menindaklanjuti Bapak Presiden, kami siapkan program Satu Orang Satu Rekening, dan dengan program Satu Orang Satu Rekening ini, inklusivitas keuangan kita mendekati 99 persen, Pak. Jadi naik dari 93 persen menjadi 99 persen," ujar Airlangga.

Ia menjelaskan, data calon penerima manfaat disiapkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI bersama perbankan syariah dengan mengacu pada data dari instansi terkait.

Program tersebut diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk memiliki rekening bank dan mengakses layanan keuangan formal.

Rekening Aktif Jadi Tantangan Setelah Akses Diperluas

Perluasan kepemilikan rekening menjadi langkah awal untuk meningkatkan inklusi keuangan. Namun, manfaat program akan lebih optimal apabila masyarakat menggunakan rekeningnya secara berkelanjutan.

Karena itu, OJK menekankan pentingnya edukasi dan pendampingan, terutama bagi nasabah yang baru mengenal layanan perbankan. Dengan pemahaman yang memadai, rekening diharapkan dapat menjadi sarana menabung, mengatur keuangan, dan merencanakan masa depan, sekaligus mengurangi risiko penyalahgunaan untuk tindak kejahatan keuangan.

Program Satu Orang Satu Rekening pun tidak hanya diarahkan untuk memperluas akses perbankan, tetapi juga membangun kebiasaan finansial yang sehat di tengah masyarakat.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN