Musim Trek Lebih Panjang, Petani Andaliman di Toba Alami Penurunan Panen dan Lonjakan Harga

Andaliman yang dijual pedagang di Kabupaten Toba. (foto: nimrot/mistar)
Toba, MISTAR.ID
Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Toba sepanjang 2025 berdampak signifikan pada produksi andaliman. Petani menyebut musim sambang (trek) tahun ini jauh lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga hasil panen menurun drastis dan harga diperkirakan terus naik hingga awal 2026.
Rudi Manto Pasaribu, petani andaliman di Kecamatan Borbor, mengatakan kemarau tahun ini tergolong ekstrem. Kondisi tersebut membuat bunga andaliman—yang menjadi bakal buah—gugur sebelum berkembang.
“Biasanya bulan November buah sudah mulai tampak dan bisa dipetik pada Januari 2026. Tapi tahun ini sejak April bunga terus gugur,” ujar Rudi, Senin (24/11/2025).
Ia menjelaskan, tingkat gugur bunga yang tinggi membuat produksi menurun tajam. “Kalau sebelumnya dalam seminggu bisa panen 10 kilogram dari 5 rante lahan, tahun ini paling maksimal 5 kilogram saja,” katanya.
Penurunan produksi inilah yang diperkirakan membuat stok andaliman di pasar ikut berkurang hingga awal 2026. Akibat produksi anjlok, harga jual di pasar tradisional pun melonjak.
Berdasarkan pantauan Mistar, harga andaliman di Pasar Porsea mencapai Rp550.000 per kilogram. Di Pasar Balige harga berkisar Rp500.000–Rp550.000 per kilogram, sementara Pasar Laguboti relatif lebih rendah yakni sekitar Rp500.000 per kilogram.
Yolanda Sibuea, pedagang di Pasar Laguboti, mengaku dapat menjual andaliman lebih murah karena membeli langsung dari petani di tiga kecamatan—Habinsaran, Nassau, dan Borbor.
“Petani yang memasok ke saya cukup banyak, jadi stok stabil. Dalam sepekan bisa dapat 10 kilogram,” ujar Yolanda.
Sementara itu, pedagang di Pasar Balige menyebut harga di tingkat pengepul (toke) kini sangat tinggi sehingga modal ikut membengkak. Seorang pedagang, Ibu Panjaitan, mengungkapkan kesulitannya memperoleh barang.
“Harga dari toke sudah Rp480.000 per kilogram, jadi wajar kalau ke konsumen minimal Rp500.000. Ini saja yang saya dapat cuma satu ons,” katanya sambil menunjukkan dagangannya.
Dengan kondisi ini, harga andaliman diperkirakan tetap tinggi hingga musim panen kembali normal. (hm24)




















