Monday, October 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Ketergantungan Impor Energi Dunia Diproyeksi Memuncak pada 2034

Mistar.idSenin, 19 Oktober 2026 pukul 19.36 WIB
ketergantungan_impor_energi_dunia_diproyeksi_memuncak_pada_2034

Ilustrasi. (Foto: Ruang Energi)

Jakarta, MISTAR.ID – Ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi mendorong negara-negara memperkuat ketahanan energi. Di tengah perubahan tersebut, ketergantungan dunia terhadap impor energi fosil diproyeksikan mencapai puncak pada 2034 sebelum berangsur menurun dalam jangka panjang.

Proyeksi itu tertuang dalam laporan Global Energy Scenarios 2026: Pathways to Resilience yang diterbitkan perusahaan riset energi Rystad Energy pada 15 Oktober 2026.

Laporan tersebut memperkirakan penurunan ketergantungan impor akan berlangsung dengan kecepatan berbeda, bergantung pada kebijakan energi, perkembangan teknologi, serta investasi untuk membangun sumber energi domestik.

Rystad Energy menyusun tiga skenario perkembangan sistem energi global hingga 2050, yakni Climate First, Pragmatism, dan Fossil First. Ketiga skenario tersebut menggambarkan kemungkinan perubahan permintaan energi, bauran teknologi, ketergantungan impor, dan kebutuhan investasi berdasarkan perbedaan asumsi kebijakan.

Proyeksi ini disusun setelah sistem energi global menghadapi sejumlah guncangan besar dalam lima tahun terakhir. Perang Rusia-Ukraina serta konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang mengganggu jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz menjadi ujian bagi kemampuan negara-negara menjaga kesinambungan pasokan.

Menurut Rystad Energy, pengalaman tersebut turut mengubah prioritas kebijakan energi. Pemerintah tidak lagi hanya berfokus pada pengurangan emisi, tetapi juga semakin memperhatikan keamanan pasokan dan keterjangkauan harga.

Dampak krisis energi, menurut laporan tersebut, bahkan dapat bertahan setelah gangguan pasokan mereda. Sejumlah krisis justru memicu perubahan jangka panjang pada teknologi, kebijakan, dan pola konsumsi energi.

Senior Partner sekaligus Head of Carbon & Scenarios Rystad Energy, Jo Husebye, menilai krisis energi pada dekade 2020-an berpotensi mengubah sistem energi selama satu generasi.

“Guncangan minyak pada tahun 1970-an mengubah lanskap energi bagi satu generasi. Krisis pada tahun 2020-an akan membawa perubahan serupa, namun kali ini dengan rangkaian teknologi yang lebih luas dan lebih responsif,” ujar Husebye, dilansir dari Kompas.com, Senin (19/10/2026).

Perubahan strategi pasokan terlihat dari langkah Eropa mengurangi ketergantungan terhadap gas Rusia. Pada 2021, Rusia memasok sekitar 36 persen impor gas Eropa, sedangkan Amerika Serikat hanya menyumbang sekitar 6 persen.

Empat tahun kemudian, porsi Rusia turun menjadi sekitar 7,5 persen. Sebaliknya, kontribusi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari AS meningkat hingga sekitar 21 persen.

Infrastruktur energi yang dibangun setelah krisis sebelumnya membantu Eropa menghadapi gangguan pasokan. Namun, diversifikasi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko. Persaingan antara Eropa dan Asia dalam memperoleh kargo LNG masih berpotensi memicu kekurangan pasokan di kedua kawasan. (Kompas)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN