Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Kebanjiran Pasokan, Harga Cabai Merah di Deli Serdang Turun Drastis

Mistar.idSelasa, 16 Desember 2025 pukul 14.55 WIB
kebanjiran_pasokan_harga_cabai_merah_di_deli_serdang_turun_drastis

Pedagang cabai di Tanjung Morawa. (Foto: Gunawan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Harga cabai merah di Deli Serdang mengalami penurunan signifikan hari ini, Selasa (16/12/2025). Terpantau harga cabai merah dijual sebesar Rp30.000 per kilogram (kg).

Anjloknya harga ini disebabkan oleh kebanjiran pasokan (supply) dari sentra produksi Simalungun yang diperburuk oleh melambatnya permintaan (demand) masyarakat pasca-bencana.

"Penurunan harga cabai sudah terendus sejak awal pekan ini, di mana pedagang besar sudah mulai kebanjiran permintaan yang diperburuk dengan bencana," kata Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, Selasa (16/12/2025).

Pemicu utama karena peningkatan pasokan dari wilayah Pematang Raya atau Pematang Bandar Simalungun. Padahal, harga cabai merah di awal pekan, berdasarkan pantauan PIHPS Kota Medan, sempat berada di level Rp47.000 per kg.

Berbeda dengan harga cabai rawit yang masih bertahan mahal. Meski sudah mengalami penurunan sedikit. Harga cabai rawit hari ini di kisaran Rp70.000 per kg di Deli Serdang.

Gunawan menyoroti bahwa mahalnya harga cabai rawit karena pasokan dominan cabai rawit biasanya didatangkan dari wilayah Takengon, Aceh Tengah.

Namun, akses jalan yang terputus akibat bencana mengakibatkan pasokan dari Aceh tidak mampu terdistribusi dengan baik.

"Alhasil mahalnya harga cabai rawit saat ini akan lebih banyak dinikmati oleh petani yang akses jalur daratnya tidak alami gangguan," ucapnya.

Untuk jenis lainnya, harga cabai caplak turun menjadi sekitar Rp50.000 per kg, padahal sehari sebelumnya sempat ditransaksikan di kisaran Rp70.000 per kg. Sementara cabai hijau terpantau normal di kisaran Rp30.000 per kg.

Selain peningkatan supply, penurunan harga juga diperparah oleh melambatnya permintaan (demand) masyarakat, yang anomali terjadi menjelang Natal dan Tahun Baru 2026.

"Saya menilai belanja masyarakat di tengah bencana saat ini sangat memprihatinkan, dan berpotensi meluas karena dampak psikologis pasar dan belanja masyarakat yang terkonsentrasi untuk bantuan," ujarnya.

Ia menyimpulkan bahwa tekanan demand ini hanya bisa diatasi jika proses pemulihan pasca-bencana dapat diselesaikan segera. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN