Kawasan Industri Jabodetabek Tumbuh Pesat Sepanjang 2025

Kantor PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa) Square di area komersial Kawasan Industri MM2100. (foto: istimewa/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Sektor kawasan industri di wilayah Jabodetabek (Greater Jakarta) mencatat kinerja paling menonjol sepanjang 2025 dibandingkan subsektor properti lainnya. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh meningkatnya investasi di bidang manufaktur dan logistik.
Head of Research & Consultancy CBRE Indonesia, Anton Sitorus, mengatakan tingginya aktivitas kedua sektor tersebut mendorong penyerapan lahan industri secara signifikan.
Sepanjang 2025, total pasokan lahan kawasan industri di Greater Jakarta tercatat mencapai 15.400 hektare. Dari jumlah itu, tingkat okupansi sudah menyentuh 91 persen, dengan total penyerapan lahan (take-up) sebesar 218 hektare selama tahun berjalan.
“Untuk kawasan industri, pertumbuhannya terbilang cukup baik dibandingkan sektor properti lainnya,” ujar Anton, Rabu (11/2/2026).
Persaingan pasar yang semakin ketat turut mendorong kenaikan harga lahan industri. Rata-rata harga kini berada di kisaran Rp2,5 juta per meter persegi. Sementara itu, sisa lahan kosong di seluruh kawasan Greater Jakarta tinggal sekitar 1.300 hektare.
Secara wilayah, Cikarang mencatat lonjakan harga paling tinggi, menembus Rp3 juta per meter persegi. Keterbatasan lahan dan persaingan dengan pengembangan perumahan serta properti komersial membuat harga tanah industri di kawasan tersebut terus meningkat.
“Pertumbuhan harga paling signifikan terjadi di Cikarang karena wilayahnya sudah padat dan harus bersaing dengan peruntukan lain seperti hunian dan komersial,” kata Anton.
Di sisi lain, Karawang menjadi pilihan utama bagi investor yang membutuhkan lahan dalam skala besar. Ketersediaan stok yang masih cukup luas membuat kawasan ini mampu menampung ekspansi industri strategis.
Ke depan, CBRE Indonesia memproyeksikan tambahan pasokan lahan sekitar 1.600 hektare. Sebagian besar berasal dari proyek baru berskala besar yang tengah disiapkan di Karawang. Sementara kawasan industri yang sudah beroperasi umumnya hanya melakukan perluasan terbatas.
Dengan tren investasi yang masih kuat, sektor kawasan industri diperkirakan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan properti di Jabodetabek dalam waktu dekat.






















