Friday, June 5, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Jaga Inflasi, BI Luncurkan GPIPS untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Mistar.idKamis, 12 Februari 2026 16.05
journalist-avatar-top
AS
jaga_inflasi_bi_luncurkan_gpips_untuk_perkuat_ketahanan_pangan_nasional

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P Gozali. (foto: Humas BI Siantar/Mistar)

news_banner

Banyuasin, MISTAR.ID

Menghadapi tantangan perubahan iklim dan fluktuasi harga komoditas yang kian kompleks, Bank Indonesia (BI) memperkenalkan strategi baru bertajuk Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Program ini diproyeksikan menjadi tulang punggung baru dalam menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat ketahanan pangan struktural di Indonesia.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P Gozali, dalam peluncuran GPIPS Wilayah Sumatera 2026 di Kabupaten Banyuasin, Rabu (11/2/2026), mengatakan langkah ini bukan sekadar pemadam kebakaran untuk stabilisasi harga jangka pendek.

"GPIPS adalah evolusi dari program sebelumnya (GNPIP). Kami fokus pada pendekatan yang lebih integratif dan berkelanjutan, mulai dari penguatan hulu hingga sinergi logistik antarwilayah," ujarnya.

Data terbaru menunjukkan urgensi dari gerakan ini. Meski inflasi nasional sepanjang tahun 2025 berhasil terjaga di angka 2,92% (yoy), awal tahun 2026 memberikan sinyal waspada.

Pada Januari 2026, inflasi melonjak ke angka 3,55% (yoy). Kenaikan ini dipicu oleh kelompok pangan bergejolak (volatile food) akibat faktor musiman dan cuaca ekstrem. Melalui GPIPS, BI menargetkan inflasi pangan dapat diredam pada kisaran 3,0% – 5,0%.

Untuk mencapai target tersebut, Bank Indonesia mengusung tiga strategi krusial. Pertama, BI akan menggenjot produksi melalui teknologi. Pada poin ini, akan dilakukan pemanfaatan bibit unggul tahan cuaca, teknologi adaptif, dan pengaturan pola tanam yang terkoordinasi untuk memitigasi risiko iklim.

Kedua, BI akan melakukan efisiensi logistik dan konektivitas. Nantinya, BI akan mengoptimalkan Kerja Sama Antardaerah (KAD) dan bersinergi dengan BUMN logistik guna memangkas rantai pasok yang panjang.

Ketiga, BI akan menjalin sinergi pusat-daerah. Pada poin ini, BI memanfaatkan data neraca pangan secara real-time dan memperkuat peran BUMD sebagai penyerap hasil tani (offtaker).

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN