Harga Daging Sapi di Jakarta Tembus Rp 140.000/Kg Jelang Ramadan

Kenaikan harga daging jelang Ramadan. (foto: Dokumentasi Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Harga daging sapi di sejumlah pasar di Jakarta mengalami kenaikan menjelang Ramadan. Saat ini, rata-rata harga daging sapi mencapai Rp 140.000 per kilogram.
Ahmad, pedagang daging di Pasar Cibubur, mengatakan kenaikan harga terjadi secara bertahap setelah aksi mogok pedagang pada akhir Januari lalu. “Setelah mogok selesai, harga mulai naik. Sebelumnya saya jual Rp 130.000 per kilo, sekarang sudah Rp 140.000 per kilo,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Jujun, pedagang di Pasar Cijantung. Menurutnya, seluruh jenis potongan daging, mulai dari sengkel hingga paha belakang (knuckle), kini dijual dengan harga rata-rata Rp 140.000 per kilogram. Ia memperkirakan harga masih berpotensi naik dalam waktu dekat.
Berdasarkan data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 11 Februari 2026, harga daging sapi telah menyentuh batas atas Harga Acuan Pembelian (HAP). HAP untuk daging sapi segar bagian paha depan ditetapkan Rp 130.000 per kilogram, sedangkan paha belakang Rp 140.000 per kilogram.
Tak hanya daging sapi, harga daging kerbau juga ikut melonjak. Data Bapanas menunjukkan harga rata-rata nasional daging kerbau mencapai Rp 112.100 per kilogram, atau lebih dari 20 persen di atas HAP yang ditetapkan Rp 80.000 per kilogram.
Bahkan di Pulau Jawa, harga daging kerbau menyentuh Rp 120.000 per kilogram, sekitar 50 persen lebih tinggi dari HAP. Kenaikan harga ini diduga terkait kebijakan kuota impor daging tahun 2026 yang dinilai tidak sesuai kebutuhan pasar.
Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (NAMPA), Hastho Yulianto, menilai pengurangan kuota impor daging sapi menjadi 30.000 ton telah mengubah kondisi pasar secara signifikan, terutama bagi industri pengolahan daging.
Menurutnya, alokasi untuk pelaku usaha swasta dan anggota asosiasi yang hanya mendapat 17.000 ton tahun ini berisiko menyebabkan kekurangan bahan baku.
Dengan pasokan yang lebih banyak dikuasai BUMN dan ruang gerak swasta yang terbatas, pasar menjadi lebih rentan terhadap gangguan.
Ia mengingatkan jika kebijakan kuota impor tidak dievaluasi secara menyeluruh, industri pengolahan daging berpotensi mengalami penurunan produksi, penundaan ekspansi, bahkan penghentian usaha.
Hastho juga meragukan efektivitas impor daging dari Brasil dalam menekan harga di tingkat konsumen. Ia menilai, pengalaman sebelumnya menunjukkan impor oleh BUMN belum tentu mampu menurunkan harga pasar.
Selain itu, ia meminta pemerintah tidak membatasi impor daging untuk kebutuhan industri pengolahan serta sektor hotel, restoran, dan katering (horeka), karena daging impor tersebut digunakan sebagai bahan baku, bukan untuk dijual langsung ke konsumen.




















