IHSG Naik 1,3% ke 8.258, Telkom dan Saham Bank Besar Dorong Penguatan, BI Tahan Suku Bunga

Grafik menunjukkan IHSG naik 1,3% ke 8.258 (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan sesi pertama hari ini, Kamis (23/10/2025). Indeks domestik naik 1,3% atau 105,79 poin ke level 8.258,34, seiring optimisme pelaku pasar terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan.
Sepanjang sesi pagi hingga siang, IHSG bergerak stabil di rentang 8.179,61–8.268,79. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, terdapat 431 saham menguat, 256 melemah, dan 269 stagnan. Aktivitas perdagangan juga terbilang ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp 11,08 triliun, melibatkan 17,01 miliar saham dari 1,44 juta transaksi.
Sektor Konsumer dan Properti Jadi Motor Penguatan
Mengacu data Refinitiv, hampir seluruh sektor berada di zona positif. Sektor konsumer primer memimpin kenaikan dengan lonjakan 3,33%, disusul properti yang menguat 2,45%, dan teknologi yang naik 2,1%.
Hanya dua sektor yang melemah, yakni energi (-0,67%) dan utilitas (-0,34%), seiring tekanan pada harga minyak global yang belum stabil.
Telkom (TLKM) Topang IHSG, Saham Bank Besar Rebound
Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi bintang utama hari ini dengan lonjakan 6,98% ke level Rp 3.370. Kenaikan TLKM memberi kontribusi hingga 25,18 poin terhadap penguatan IHSG.
Selain itu, saham-saham perbankan besar kembali menguat setelah sempat terkoreksi sehari sebelumnya. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) masing-masing menyumbang 9,93 poin, 7,02 poin, dan 6,79 poin terhadap indeks.
Saham Konglomerat Ikut Menggeliat
Kenaikan juga tampak pada saham-saham konglomerat nasional. Pradiksu Gunatama (PGUN) milik Haji Isam melesat 19,97% di sesi pertama dan berkontribusi 3,21 poin ke IHSG.
Sementara itu, Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) milik Hermanto Tanoko kembali menyentuh batas atas perdagangan (Auto Reject Atas/ARA) dengan kontribusi 6,92 poin.
BI Tahan Suku Bunga di Tengah Ketidakpastian Global
Dari sisi makroekonomi, keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu (22/10) untuk menahan suku bunga acuan di level 4,75% menjadi sentimen positif bagi pasar modal.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, kebijakan tersebut merupakan langkah pre-emptive dan forward looking untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah serta mengantisipasi risiko global akibat arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang masih belum pasti.
“Keputusan ini menyeimbangkan antara stabilitas eksternal dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Level suku bunga saat ini masih memadai untuk menjaga inflasi sesuai target,” ujar Perry dalam konferensi persnya.
Selain menahan suku bunga, BI juga akan memperkuat operasi moneter dan intervensi valas untuk menekan volatilitas Rupiah, sembari mempertahankan kebijakan makroprudensial longgar agar kredit perbankan terus mengalir ke sektor riil.
Kemenkeu Siapkan Dana Rp 20 Triliun untuk Hapus Tunggakan BPJS
Dari sisi fiskal, kabar positif datang dari Kementerian Keuangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah menyiapkan anggaran Rp 20 triliun untuk program penghapusan tunggakan iuran BPJS Kesehatan.
Langkah ini merupakan bagian dari janji Presiden Prabowo Subianto untuk menata ulang data kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Purbaya menegaskan bahwa program ini akan difokuskan pada peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Peserta yang didaftarkan Pemda (PBU Pemda) yang nonaktif karena menunggak.
“Program ini bukan untuk semua peserta, tetapi khusus bagi yang datanya bermasalah akibat tunggakan lama. Ini upaya pemerintah memastikan tidak ada masyarakat miskin kehilangan akses kesehatan,” ujarnya.
(hm17)
BERITA TERPOPULER



















