IHSG Dibuka Menguat, Namun Berpotensi Konsolidasi Dipicu Sentimen Global

Ilustrasi. (Foto: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)
Jakarta, MISTAR.ID
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Senin (27/4/2026) pagi. IHSG naik 29,02 poin atau 0,41 persen ke level 7.158,51.
Namun, penguatan tidak diikuti oleh indeks saham unggulan. Indeks LQ45 justru tercatat melemah 2,32 poin atau 0,34 persen ke posisi 693,08.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menilai pergerakan IHSG dalam jangka pendek cenderung bergerak campuran (mixed) dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah.
Menurut dia, tekanan pasar saat ini dipengaruhi sentimen global yang didominasi aksi risk-off serta pelemahan nilai tukar rupiah yang mendorong potensi arus keluar modal asing.
Secara teknikal, IHSG yang sebelumnya ditutup di level 7.129 pada Jumat (24/4), saat ini berada dalam kondisi oversold setelah menutup gap di kisaran 7.308-7.346. Kondisi tersebut, kata Brigita, membuka peluang terjadinya technical rebound jangka pendek, meski penguatannya terbatas.
“Fokus pasar kini tertuju pada pengujian support krusial di rentang 7.100-7.150. Jika level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan ke area 7.022-7.080 hingga menguji support psikologis di sekitar 6.917,” ujar Brigita, dilansir dari Antara.
Dari sisi global, ketidakpastian masih membayangi pasar seiring belum tercapainya kesepakatan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi global.
Pasar juga mengantisipasi kemungkinan pengetatan suplai energi yang dapat menjaga harga tetap tinggi, sehingga berisiko menahan penurunan inflasi global serta membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek.
Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral AS (The Fed) disebut kembali bergeser lebih hawkish seiring risiko inflasi berbasis energi yang masih tinggi.
Kondisi tersebut mendorong investor bersikap hati-hati dengan kecenderungan risk-off, termasuk peralihan dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi sebagai instrumen lindung nilai. (hm25)




















