Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Sayur-Mayur di Kota Medan Mulai Merangkak Naik

Mistar.idKamis, 16 April 2026 11.29
journalist-avatar-top
harga_sayurmayur_di_kota_medan_mulai_merangkak_naik

Pedagang sayur-mayur di Pasar Kampung Lalang. (Foto: Amita/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Harga sejumlah komoditas sayur-mayur di Pasar tradisional Kota Medan merangkak naik pada pertengahan April 2026. Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan paling signifikan terjadi pada sayuran jenis brokoli dan kol, sementara harga bumbu dapur seperti daun sop justru mengalami penurunan harga yang cukup tajam.

Di Pasar Kampung Lalang, kenaikan harga terlihat jelas pada beberapa komoditas sayuran hijau. Ida, salah seorang pedagang di pasar tersebut, menjelaskan harga sawi putih kini dibanderol Rp8.000 per kg dari sebelumnya Rp6.000, sedangkan kol naik dari Rp8.000 menjadi Rp10.000 per kg.

"Paling terasa itu brokoli, sekarang harganya sudah Rp16.000 per kg padahal sebelumnya cuma Rp10.000. Begitu juga daun sop dan prei yang harganya turun drastis, sekarang Rp30.000 per kg dari harga sebelumnya yang sempat menyentuh Rp40.000 per kilonya. Kalau kentang masih stabil di Rp12.000, tomat Rp11.000, dan wortel Rp7.000," kata Ida saat ditemui di lapak dagangannya, Kamis (16/4/2026).

Kondisi yang hampir serupa terjadi di Pasar Sei Sikambing. Kenaikan harga kol di pasar ini bahkan lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya, yakni menembus angka Rp11.000 per kg dari harga normal sebelumnya di kisaran Rp7.000 per kg.

Anton, pedagang sayur di Pasar Sei Sikambing, menyebutkan kualitas dan pasokan barang dari daerah produsen sangat memengaruhi harga jual saat ini.

"Harga brokoli di sini juga naik jadi Rp17.000 per kg, naik tujuh ribu rupiah dari harga sebelumnya," tuturnya.

Kemudian, sawi putih juga naik ke Rp8.000, sedangkan daun sop dan prei turun menjadi Rp32.000 per kg. Untuk kentang, ia mengatakan menjual di harga Rp10.000 hingga Rp12.000 per kg, itu tergantung ukuran dan kualitas barangnya.

Tanggapan masyarakat terhadap fluktuasi harga sayur-mayur ini pun beragam, mulai dari keluhan mengenai kenaikan harga sayuran hijau hingga strategi penghematan yang harus dilakukan para ibu rumah tangga.

Seorang ibu rumah tangga yang sedang berbelanja di Pasar Kampung Lalang, Sari, mengaku cukup terkejut dengan kenaikan harga brokoli dan kol yang terjadi secara mendadak.

Ia mengatakan kenaikan harga beberapa jenis sayur ini sangat membebani pengeluaran harian, terutama di tengah kondisi harga bahan pokok lain yang belum juga turun.

"Brokoli sekarang mahal sekali, naik hampir dua kali lipat. Padahal biasanya ini jadi sayuran favorit anak-anak di rumah. Karena harganya naik begitu, terpaksa saya ganti dulu dengan sayuran lain yang harganya masih terjangkau seperti wortel atau sawi. Kami sebagai warga kecil tentu berharap harga-harga ini bisa segera stabil lagi agar uang belanja tidak terus-terusan membengkak," ujar Sari.

Senada dengan itu, Nurul, salah seorang warga yang ditemui di Pasar Sei Sikambing, juga mengeluhkan kenaikan harga kol dan sawi putih. Menurutnya, meski ada beberapa komoditas seperti daun sop yang turun harga, kenaikan pada jenis sayuran utama tetap saja membuat pengeluaran dapur sulit diawasi.

"Biarpun daun sop turun, tapi kalau kol dan sawi naik ya tetap saja terasa berat. Apalagi kol naiknya lumayan banyak sampai empat ribu rupiah per kilo. Sekarang kalau belanja harus lebih pintar memilah, mana yang benar-benar butuh saja. Kalau semua sayuran naik terus begini, porsi belanja di dapur terpaksa kami kurangi sedikit demi sedikit supaya cukup sampai akhir bulan," ucap Nurul.

Masyarakat secara umum berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat memantau rantai distribusi dari daerah penghasil sayuran, sehingga lonjakan harga akibat kurangnya pasokan di pasar-pasar Kota Medan dapat segera diatasi.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN