Harga Pangan Jatuh di Awal Januari, Ekonom Sebut Deflasi Ancam Petani Sumut

Pedagang di pasar Kampung Lalang. (foto: amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai anjloknya harga pangan di awal Januari berpotensi menyeret Sumut ke arah deflasi. Meski menguntungkan konsumen, kondisi ini justru berdampak buruk bagi petani karena harga jual sejumlah komoditas telah turun di bawah harga keekonomian.
Pada akhir pekan pertama Januari, harga berbagai komoditas hortikultura terpantau mengalami penurunan signifikan. Harga cabai merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram, kini ditransaksikan pada rentang Rp19 ribu hingga Rp23 ribu per kilogram. Penurunan juga terjadi pada cabai rawit yang turun dari sekitar Rp75 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.
Selain itu, harga cabai hijau ikut melemah dari Rp23 ribu menjadi sekitar Rp21 ribu per kilogram. Bawang merah pun turun cukup tajam, dari kisaran Rp38 ribu menjadi Rp28 ribu hingga Rp31 ribu per kilogram. Dari sejumlah komoditas tersebut, cabai rawit masih tergolong mahal, sementara bawang merah sudah berada di level harga keekonomiannya.
Gunawan menjelaskan, koreksi harga tersebut lebih disebabkan oleh peningkatan pasokan di pasar. “Peningkatan supply mendorong penurunan harga di tingkat konsumen,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026).
Namun, menurutnya kondisi ini menjadi tekanan serius bagi petani karena berbanding terbalik dengan biaya produksi yang dikeluarkan.
Ia menambahkan, pada Januari ini Sumatera Utara berpeluang mencatatkan deflasi setelah inflasi cukup tinggi terjadi pada Desember lalu. Sejalan dengan itu, nilai tukar petani diproyeksikan kembali tertekan.
“Daya beli petani akan terpukul, apalagi realisasi harga cabai saat ini sudah berada di bawah harga keekonomiannya,” kata Gunawan.
Menurutnya, untuk komoditas cabai hijau dan cabai merah, petani dipastikan telah menjual hasil panen dalam kondisi merugi. Peluang pemulihan harga diperkirakan baru akan terlihat pada Februari mendatang, menjelang Ramadan dan Idulfitri. Namun, ia menegaskan kenaikan tersebut bukan semata akibat lonjakan permintaan.
“Ada potensi koreksi di sisi supply setelah bencana banjir memaksa banyak petani hortikultura di sejumlah wilayah melakukan tanam ulang,” ucapnya.
Kondisi tersebut juga memunculkan ancaman gagal panen yang membayangi produksi tanaman pangan di Sumut. Dalam situasi ini, Gunawan menilai pemerintah akan menghadapi tantangan kenaikan harga pangan menjelang perayaan keagamaan.
Ia menilai perlunya solusi jangka pendek untuk meredam potensi lonjakan harga, khususnya pada komoditas cabai dan hortikultura lainnya.
Sementara itu, harga daging ayam, telur ayam, dan daging sapi diproyeksikan masih akan bertahan mahal. Berbeda dengan beras yang diperkirakan tetap stabil di tengah musim panen raya.
Gunawan menambahkan hingga saat ini pemetaan sumber produksi pangan di Sumut masih sulit dilakukan, setidaknya sampai terlihat pemulihan lahan pertanian pasca bencana, kestabilan modal petani, serta pola tanam yang kembali konsisten.
PREVIOUS ARTICLE
KAI Sumut Angkut 683 Ton Logistik Sepanjang Tahun 2025












