Harga Emas Dunia Cetak Rekor Tertinggi Tembus US$4.385 Dipicu Suku Bunga dan Geopolitik

Emas batangan (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Harga emas dunia kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Senin pagi (22/12/2025). Hingga pukul 10.17 WIB, logam mulia ini terpantau menguat 1,09% ke level US$4.385,59 per troy ons.
Pencapaian tersebut menandai all-time high baru, melampaui rekor sebelumnya di level US$4.381,21 per troy ons yang tercatat pada 20 Oktober 2025. Sebagai perbandingan, pada penutupan perdagangan Jumat (19/12/2025), harga emas dunia berada di posisi US$4.337,99 per troy ons atau naik tipis 0,14%.
Penguatan harga emas didorong oleh meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat serta memanasnya tensi geopolitik global. Pelaku pasar saat ini memproyeksikan Federal Reserve akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali lagi pada tahun depan.
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik ke Rp2.470.000 per Gram, Dipicu Spekulasi The Fed Pangkas Suku Bunga 2026
Ekspektasi tersebut muncul setelah data inflasi AS yang dirilis pekan lalu tercatat lebih rendah dari perkiraan. Prospek penurunan suku bunga menekan imbal hasil aset berbunga dan mendorong investor mengalihkan dana ke emas sebagai aset lindung nilai.
Dari sisi geopolitik, sejumlah konflik global turut memperkuat permintaan emas. Amerika Serikat dilaporkan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas kapal di sekitar Venezuela setelah menyita dua kapal tanker dalam bulan ini.
Selain itu, konflik Rusia dan Ukraina kembali meningkat setelah Ukraina dilaporkan untuk pertama kalinya menyerang kapal tanker Rusia di Laut Mediterania. Eskalasi konflik tersebut memperbesar ketidakpastian global dan mendorong minat investor terhadap aset safe haven seperti emas.
Goldman Sachs memperkirakan harga emas masih berpeluang melanjutkan penguatan dalam jangka menengah hingga panjang. Dalam skenario dasar, bank investasi tersebut memproyeksikan harga emas naik sekitar 14% menjadi US$4.900 per troy ons pada Desember 2026.
Goldman Sachs menilai permintaan bank sentral yang tetap tinggi secara struktural, serta dukungan siklikal dari pemangkasan suku bunga The Federal Reserve, akan menjadi faktor utama pendorong harga emas. Bank tersebut juga merekomendasikan investor untuk mempertahankan eksposur jangka panjang pada logam mulia sebagai strategi diversifikasi portofolio.

















