Tuesday, July 7, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Dolar AS Masih Bertahan di Rp17.650

Mistar.idSelasa, 19 Mei 2026 pukul 11.55 WIB
dolar_as_masih_bertahan_di_rp17650

Rupiah dan Dolar AS. (Foto: Antara/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (19/5/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka turun 0,06 persen ke level Rp17.650 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tekanan terhadap mata uang Garuda setelah pada perdagangan sebelumnya, Senin (18/5/2026), rupiah ditutup melemah tajam 1,03 persen di level Rp17.640 per dolar AS.

Posisi tersebut menjadi salah satu level terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Sementara itu, melansir dari CNBC Indonesia, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia justru terpantau melemah. Hingga pukul 09.00 WIB, DXY turun 0,15 persen ke posisi 99,044.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih dipengaruhi sentimen dari dalam dan luar negeri.

Dari domestik, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dimulai Selasa dan berlangsung hingga Rabu (20/5/2026). Pelaku pasar menantikan keputusan terbaru terkait arah suku bunga acuan di tengah tekanan terhadap rupiah dan pasar saham.

Pada RDG sebelumnya, 21–22 April 2026, BI mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen. Suku bunga Deposit Facility tetap di 3,75 persen dan Lending Facility di 5,50 persen.

Dari pasar global, investor masih mencermati perkembangan perang Iran dan dampaknya terhadap harga minyak dunia. Harga minyak tercatat naik sekitar 2 persen ke level tertinggi dalam dua pekan pada perdagangan Senin.

Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Iran, meski terdapat laporan AS akan memberikan keringanan sanksi terhadap minyak mentah Iran dalam proses pembicaraan.

Sebelumnya, dolar AS sempat menguat pada pekan lalu seiring kenaikan imbal hasil Treasury AS. Pasar khawatir lonjakan harga energi dapat memicu inflasi dan membuka peluang bank sentral AS, The Fed, kembali menaikkan suku bunga. (hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN