Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Cabai Merah dan Tomat Penyumbang Terbesar Deflasi di Sumut pada Maret 2026

Mistar.idRabu, 1 April 2026 pukul 14.24 WIB
cabai_merah_dan_tomat_penyumbang_terbesar_deflasi_di_sumut_pada_maret_2026

Pedagang cabai merah di salah satu pasar tradisional di Medan. Cabai merah menjadi penyumbang utama deflasi pada Maret 2026 di Sumut. (Foto: Amita/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mencatat Sumut mengalami deflasi sebesar 0,13 persen secara bulanan (month-to-month) pada Maret 2026. Penurunan harga ini terutama dipicu oleh komoditas hortikultura, yakni cabai merah dan tomat.

Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, menjelaskan cabai merah menjadi penyumbang terbesar deflasi dengan andil sebesar 0,19 persen. Selain itu, tomat turut memberikan andil deflasi sebesar 0,13 persen, diikuti cabai rawit sebesar 0,09 persen.

“Upaya pengendalian inflasi kita terutama pada komoditas utama seperti cabai merah dan bawang merah relatif sangat baik. Di periode di mana permintaan sangat tinggi saat Ramadhan dan Lebaran, pasokan tersedia semuanya di Sumatera Utara,” kata Asim, Rabu (1/4/2026).

Selain komoditas tersebut, emas perhiasan juga turut menekan harga dengan andil deflasi sebesar 0,07 persen.

Meski secara bulanan terjadi deflasi, secara tahunan (year-on-year) Sumut masih mencatat inflasi sebesar 3,86 persen. Kenaikan ini didorong oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 14,77 persen serta kelompok perumahan, air, dan listrik sebesar 6,73 persen.

Sejumlah komoditas juga memberikan andil terhadap inflasi tahunan, di antaranya tarif listrik sebesar 0,90 persen, emas perhiasan 0,85 persen, daging ayam ras 0,36 persen, beras 0,28 persen, dan angkutan udara sebesar 0,10 persen.

“Secara spasial, seluruh kabupaten/kota IHK di Sumatera Utara mengalami inflasi tahunan,” ucapnya.

Kota Gunungsitoli mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 6,30 persen, sementara Kabupaten Karo menjadi yang terendah dengan inflasi sebesar 3,01 persen. Adapun deflasi bulanan terdalam tercatat terjadi di Kabupaten Labuhanbatu.

Menanggapi potensi deflasi berkepanjangan pada komoditas hortikultura, Asim menekankan pentingnya perluasan pasar, termasuk ekspor antarprovinsi.

“Produk hortikultura kita bisa kita keluarkan ke luar Sumatera Utara. Ini penting untuk meningkatkan daya beli, terutama pada petani kita agar harga di tingkat produsen tidak jatuh terlalu dalam,” ujarnya. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN