Bursa Asia Bergerak Variatif, Investor Cermati Konflik Timur Tengah dan Laporan Keuangan AS

Bursa Asia Bergerak Beragam. (Foto: Reuters)
Singapura, MISTAR.ID – Perdagangan saham di kawasan Asia dibuka bervariasi pada Senin (12/10/2026). Investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah sekaligus menantikan musim laporan keuangan perusahaan untuk kuartal III-2026.
Indeks Kospi Korea Selatan melemah 1,34 persen. Sebaliknya, indeks S&P/ASX 200 Australia menguat 0,61 persen. Sementara itu, pasar saham Jepang tidak beroperasi karena libur nasional.
Mengutip CNBC International, kekhawatiran investor terhadap prospek harga energi kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan Arab Saudi untuk memerangi kelompok Houthi di Yaman yang didukung Teheran.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan pada akhir pekan, menyusul serangan mematikan yang kembali terjadi di Bandara Internasional Riyadh, Arab Saudi. Perkembangan ini memicu kekhawatiran akan meluasnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Di tengah ketidakpastian geopolitik, investor berharap laporan keuangan kuartal III-2026 dapat menjadi penopang pasar saham. Kinerja perusahaan secara keseluruhan diperkirakan masih cukup kuat.
Menurut John Butters dari FactSet, indeks S&P 500 diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba sebesar 29,6 persen pada kuartal tersebut. Jika perkiraan ini terealisasi, pertumbuhan laba di atas 25 persen akan tercatat selama empat kuartal berturut-turut.
Kinerja tersebut salah satunya ditopang oleh pesatnya pembangunan pusat data untuk memenuhi kebutuhan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Meski demikian, perhatian investor tidak hanya tertuju pada angka laba perusahaan. Mereka juga akan mencermati penjelasan manajemen mengenai prospek bisnis dan kemampuan perusahaan menghadapi tekanan biaya.
Kenaikan harga bahan bakar dan biaya pinjaman dinilai berpotensi membebani perusahaan maupun konsumen. Kontrak berjangka minyak mentah Brent terakhir diperdagangkan di atas USD104 per barel. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun pada pekan lalu menembus level tertinggi sejak 2002.
Kondisi tersebut dapat menekan margin keuntungan perusahaan sekaligus mengurangi daya beli masyarakat.
Manajer portofolio Keeley Gabelli Small Cap Dividend Fund (KSDIX), Brian Leonard mengatakan, investor kini lebih memperhatikan kemampuan perusahaan menghadapi kondisi ekonomi yang menantang.
Investor ingin mengetahui apakah perusahaan mampu meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan, mempertahankan pertumbuhan margin keuntungan, serta memiliki prospek bisnis yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.
Bank Besar AS Mulai Rilis Kinerja Kuartal III
Musim laporan keuangan akan semakin ramai pada pekan ini dengan dimulainya publikasi kinerja sejumlah bank besar Amerika Serikat.
Bank of America, Citigroup, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Wells Fargo dijadwalkan menyampaikan laporan keuangan mereka sepanjang pekan ini.
Selain kinerja perusahaan, investor juga menantikan sejumlah data inflasi AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.
Data indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) untuk September dijadwalkan diumumkan pada Rabu (14/10/2026). Selanjutnya, indeks harga produsen atau producer price index (PPI) periode yang sama akan dirilis pada Kamis (15/10/2026). (cnbc)
NEXT ARTICLE
Harga Cabai Hijau Melambung di Pematangsiantar





















































