-1.7 C
New York
Sunday, February 25, 2024

BPS: Waspada Kenaikan Beras, Listrik & BBM Penyumbang Bobot Besar Inflasi

Jakarta, MISTAR.ID

Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan pemerintah pusat dan daerah untuk berhati-hati dalam menangani kenaikan harga komoditas yang memiliki bobot besar terhadap inflasi.

Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan kenaikan harga yang relatif tinggi pada komoditas dengan bobot besar memberikan sumbangan yang signifikan terhadap inflasi.

“Kita penting mengendalikan barang-barang yang bobotnya besar di inflasi karena ini naik sedikit saja, pasti inflasi tinggi,” kata Margo dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Selasa (30/8/22).

Baca juga:Meski Ekonomi Sumut Terus Tumbuh, BI Ingatkan Tren Kenaikan Inflasi

Bobot ini, lanjutnya, ditentukan oleh tingkat atau jumlah konsumsi di masyarakat, baik makanan dan bukan makanan.

“Jika bobotnya besar, kita wajib mengendalikannya,” tegas Margo.

Menurutnya, sebagian komoditas merupakan kelompok yang harganya diatur pemerintah atau administered prices, seperti tarif listrik dan bensin. Sebagian lainnya merupakan komoditas pangan bergejolak yang suplainya harus dikendalikan.

Margo mengungkapkan posisi pertama diduduki oleh sewa rumah dan kedua adalah kontrak rumah. Dia mengingatkan harga keduanya dapat mempengaruhi laju inflasi ini yang akan mempengaruhi stabilitas makro ekonomi.

Posisi ketiga adalah harga telur ayam ras, beras, tarif listrik dan tarif pulsa ponsel. “Misalnya, jika beras naik, ini efeknya sangat besar kepada inflasi nasional,” paparnya.

Baca juga:Gawat! Harga Beras Naik Tajam

Lebih lanjut, BPS juga mengungkapkan adanya komoditas pangan yang sensitif terhadap kondisi global, termasuk perang di Ukraina. Komoditas tersebut a.l. gandum, kedelai, gula dan daging jenis lembu. Barang-barang ini masih dipasok secara impor dan dapat menimbulkan imported inflation.

“Nanti kalau ke depan harga internasionalnya terus bertumbuh, maka akan berdampak pada industri yang mengkonsumsi barang impor, khususnya bahan pangan,” ungkapnya.

Dia menilai komoditas ini hanya bisa dikendalikan dari pola konsumsi dan ini butuh waktu jangka panjang. (cnbc/hm06)

Related Articles

Latest Articles