Wednesday, July 22, 2026
home_banner_first
EKONOMI

BI Tahan BI Rate 5,75 Persen, Ekonom: Rupiah Tak Bisa Hanya Diselamatkan Kebijakan Moneter

Mistar.idRabu, 22 Juli 2026 pukul 18.14 WIB
bi_tahan_bi_rate_575_persen_ekonom_rupiah_tak_bisa_hanya_diselamatkan_kebijakan_moneter

Pengamat Ekonomi UISU, Gunawan Benjamin. (foto: amita/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Bank Indonesia pertahankan suku bunga acuan (BI Rate) 5,75 persen di Rapat Dewan Gubernur (RGD) hari ini. Sebelumnya, suku bunga diprediksi akan naik dan belum memberikan pijakan fundamental yang kuat untuk nilai tukar Rupiah.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan pengendalian Rupiah akan berisiko bagi pertumbuhan sektor riil domestik jika hanya menitikberatkan pada instrumen moneter.

Menurutnya, pendekatan moneter dinilai memang dapat memberikan efek yang mengakomodasi kepentingan investor untuk menanamkan modal di obligasi domestik agar meredam gejolak Rupiah dalam jangka pendek.

Namun, kebijakan ini tidak serta-merta memperbaiki fundamental ekonomi jangka panjang.

"Jika pelemahan Rupiah selalu menaikkan BI Rate, maka sektor riil akan terbebani. Biaya operasional perusahaan akan naik, lalu apakah beban pelemahan Rupiah akan bertumpu pada BI? Seberapa jauh suku bunga acuan akan dinaikkan?" ujarnya, Rabu (22/7/2026).

Menurut Gunawan, stabilitas ekonomi nasional saat ini cukup rentan gangguan eksternal yang memberikan dampak pada pengelolaan fiskal pemerintah. Ancaman utamanya, harga minyak dunia yang meroket.

Hal tersebut memaksa pemerintah merancang desain fiskal yang dapat menjaga daya beli masyarakat, sembari menyelamatkan anggaran sebagai pengaman sosial atau subsidi.

Dikatakannya, pemerintah sedang memilih jalan akomodatif dengan menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah gejolak harga minyak mentah dunia.

"Pemerintah punya beberapa program prioritas yang menuntut ketersediaan anggaran dalam jumlah besar, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih," ucapnya.

Ia mengingatkan jika postur dan desain fiskal pemerintah tidak mengalami perubahan, maka kebijakan moneter BI akan dijadikan ujung tombak untuk meredam Rupiah yang melemah dan berpotensi tidak efektif.

Apalagi, pendekatan yang bertumpu pada bank sentral dilakukan saat kondisi geopolitik global yang tidak pasti.

"Desain fiskal untuk Rupiah saat dibutuhkan sekarang, kalau negara cuma mengandalkan kebijakan moneter, maka penguatan Rupiah tidak bisa menopang fundamental. Imbasnya, Rupiah akan terperosok lebih dalam ketika sentimen negatif eksternal makin buruk," ujarnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN