Tuesday, October 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

BEI Bakal Keluarkan 80 Saham dari IHSG, DCII dan BREN Ikut Terdampak

Mistar.idSelasa, 20 Oktober 2026 pukul 09.03 WIB
bei_bakal_keluarkan_80_saham_dari_ihsg_dcii_dan_bren_ikut_terdampak

Ilustrasi aktivitas IHSG (Foto: AI)

Jakarta, MISTAR.ID – Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mengeluarkan 80 saham berstatus High Shareholding Concentration (HSC) atau kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi dari penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kebijakan ini mencakup sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk DCII, BYAN, BREN, DSSA, dan MORA.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, langkah tersebut bertujuan membuat IHSG lebih mencerminkan kondisi pasar secara wajar sekaligus memperkuat transparansi dan kredibilitas indeks. Saham-saham HSC saat ini menyumbang sekitar 18 persen dari bobot IHSG.

Meski dikeluarkan dari penghitungan indeks, saham berstatus HSC tetap tercatat di bursa dan dapat diperdagangkan. Emiten yang tidak lagi masuk kategori HSC akan kembali diperhitungkan dalam IHSG. BEI juga menegaskan tidak ada sanksi tambahan bagi emiten terkait.

Namun, tanggal efektif penerapan kebijakan tersebut belum diumumkan. BEI menyatakan jadwalnya akan disampaikan kemudian.

Lima Saham HSC dengan Kapitalisasi Terbesar

Berdasarkan data akhir kuartal III-2026 dalam materi sumber, lima saham HSC dengan kapitalisasi pasar terbesar adalah:

  1. DCII – Rp471,98 triliun
  2. BYAN – Rp393,33 triliun
  3. BREN – Rp387,98 triliun
  4. MORA – Rp220,24 triliun
  5. DSSA – Rp206,12 triliun

Total kapitalisasi pasar kelima saham tersebut mencapai sekitar Rp1.679,65 triliun. Nilai ini mengacu pada akhir kuartal III-2026 dan dapat berubah mengikuti pergerakan harga saham.

Selain mengecualikan saham HSC dari IHSG, BEI berencana menambahkan informasi status afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen.

Berkaitan dengan Evaluasi MSCI

Langkah BEI muncul setelah penyedia indeks global MSCI mengumumkan konsultasi terkait kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Dalam materi sumber, periode konsultasi disebut berlangsung sejak 15 Oktober 2026 hingga April 2027, dengan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.

Pada periode yang sama, pasar saham Indonesia mengalami tekanan. IHSG tercatat turun 11,6 persen pada Jumat (16/10/2026), kemudian kembali melemah lebih dari 3 persen pada Senin (19/10/2026), menurut data dalam sumber.

BEI menyatakan telah melakukan pertemuan daring dengan MSCI setelah pengumuman tersebut, tetapi belum mengungkapkan hasil pembahasannya.

Investor perlu mencermati pengumuman resmi BEI mengenai jadwal penerapan dan daftar saham terdampak. Perubahan penghitungan indeks tidak otomatis menentukan arah harga saham, yang tetap dipengaruhi kondisi perusahaan, likuiditas, dan sentimen pasar.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN