Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Antisipasi Lonjakan Harga Minyak, Purbaya Siapkan Efisiensi Anggaran

Mistar.idSelasa, 17 Maret 2026 pukul 09.47 WIB
antisipasi_lonjakan_harga_minyak_purbaya_siapkan_efisiensi_anggaran

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Antara Foto/Bayu Pratama S)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan Kementerian Keuangan telah meminta kementerian dan lembaga teknis menyiapkan daftar program yang berpotensi dipangkas anggarannya, termasuk besaran persentase pemotongan yang memungkinkan dilakukan.

“Ada tadi didiskusikan kalau memang harga naik terus kan langkah pertama efisiensi. Kita sudah persiapkan langkah-langkah yang diperlukan,” ujar Purbaya di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2026).

Melansir dari CNNIndonesia, ia menjelaskan saat ini terdapat sejumlah program yang memiliki tambahan anggaran belanja tambahan (ABT) sehingga membuat alokasi anggaran meningkat. Dalam kondisi tersebut, pemerintah akan memprioritaskan penggunaan anggaran yang sudah tersedia.

Menurutnya, pengajuan ABT untuk sementara akan ditunda hingga kondisi fiskal dinilai lebih memungkinkan.

“Kita fokus ke anggaran yang ada, maksimalkan anggaran yang ada. Nanti mungkin dalam seminggu ke depan Kementerian Keuangan akan menentukan langkah awal mereka untuk siap-siap,” katanya.

Purbaya yang juga mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu belum mengungkapkan jumlah anggaran yang berpotensi dipangkas.

Ia menegaskan langkah utama pemerintah saat ini adalah menjaga agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali di tengah tekanan global.

“Belum ada angkanya. Jadi kita pertama jaga APBN terkendali. Nanti kalau enggak bisa lagi, harganya enggak terkendali, ya kita kerjakan yang lain,” ujarnya.

Di tengah tren kenaikan harga minyak dunia, Purbaya menilai kecil kemungkinan harga minyak melonjak hingga US$150 per barel. Menurutnya, harga yang terlalu tinggi berpotensi memicu resesi global sehingga tidak akan bertahan lama.

Ia mencontohkan pada 2013 harga minyak dunia sempat menembus sekitar US$150 per barel. Namun setelah itu harga anjlok hingga sekitar US$15 per barel sebelum kembali naik ke kisaran US$25 pada periode 2017 hingga 2018.

“Harusnya para juragan minyak juga mengerti akan itu. Dia enggak akan naik ke level yang terlalu tinggi yang menyebabkan resesi global. Kenapa? Akhirnya dia rugi banyak,” kata Purbaya. (hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN