Tuesday, June 16, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Analisis Pengamat Ekonomi: Daya Beli Turun, Masyarakat Mulai Tinggalkan Budaya Pesta Mewah

Mistar.idRabu, 29 April 2026 18.48
journalist-avatar-top
AA
analisis_pengamat_ekonomi_daya_beli_turun_masyarakat_mulai_tinggalkan_budaya_pesta_mewah

Ilustrasi daya beli masyarakat menurun. (Foto: gemini)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Penurunan daya beli masyarakat saat ini tidak hanya tercermin dari angka inflasi nasional, tetapi mulai menciptakan evolusi perilaku sosial dan ekonomi yang baru. Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai masyarakat kelas menengah ke bawah kini tengah berjuang menghadapi tekanan pendapatan riil yang kian tergerus.

Gunawan menjelaskan indikator daya beli yang paling akurat adalah pendapatan riil perbandingan antara pendapatan yang diterima dengan biaya pengeluaran, terutama untuk kebutuhan pangan.

Menurut Gunawan, inflasi sektor pangan (volatile food) adalah faktor utama yang membentuk pengeluaran masyarakat saat ini. Ketika harga pangan melonjak, masyarakat terpaksa memangkas pengeluaran untuk barang-barang tahan lama.

"Tekanan daya beli sudah sangat terlihat pada sektor non-primer. Para pedagang perabot rumah tangga dan barang elektronik mengeluhkan penurunan omzet yang drastis," katanya, Rabu (29/4/2026).

Sambung Gunawan, berlaku juga dengan kebutuhan sandang (pakaian) yang penjualannya menurun karena masyarakat lebih memprioritaskan pangan, pendidikan, dan kesehatan.

Fenomena unik yang mencerminkan penurunan daya beli adalah perubahan pola tatanan sosial di tengah masyarakat. Gunawan menyoroti dinamika hajatan atau pesta pernikahan yang belakangan ini terasa lebih sepi dan dilakukan dengan cara yang sangat sederhana.

"Banyak penyelenggara acara atau Event Organizer (EO) yang mengeluhkan penurunan omzet. Saat ini masyarakat lebih memilih menggelar hajatan tanpa pesta besar atau di gedung-gedung ternama. Ini adalah bentuk penyesuaian ekonomi yang nyata," ujarnya.

Meski permintaan pangan tetap tinggi terlebih didorong oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) namun daya serap mandiri masyarakat tetap dipertanyakan.

Indikator lain yang divalidasi oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) adalah pergeseran serapan tenaga kerja. Saat ini, masyarakat lebih banyak terserap di sektor informal dibandingkan sektor formal, yang menandakan ketidakstabilan pendapatan jangka panjang.

Gunawan menyimpulkan bahwa kondisi ekonomi saat ini tengah membentuk tatanan perilaku belanja masyarakat yang baru.

Penurunan omzet di alami oleh sektor perabot, elektronik, dan jasa EO. Kemudian, sektor informal menjadi pelarian utama pencari kerja akibat sempitnya lapangan kerja formal. Perubahan perilaku yang terjadi adalah budaya belanja yang lebih hemat dan pragmatis demi bertahan hidup.

"Daya beli yang turun ini menciptakan budaya ekonomi baru. Tatanan sosial ekonomi kita sedang mengalami evolusi, bukan hanya tuntutan zaman, tetapi dinamika ekonomi yang memaksa tatanan perilaku belanja masyarakat berubah secara fundamental," ucapnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN