Sofyan Tan Dorong Mahasiswa Bijak Manfaatkan AI di Era Digital

Anggota Komisi X DPR RI, dr Sofyan Tan saat menggelar sosialisasi pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di STIK-P Medan. (foto: STIK-P Medan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Anggota Komisi X DPR RI, dr Sofyan Tan, menggelar sosialisasi pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran di tingkat perguruan tinggi. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Hj Ani Idrus, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIK-P) Medan, Jumat (12/12/2025).
Sosialisasi ini dihadiri perwakilan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI), Ketua STIK-P Medan Dr H Sakhyan Asmara MSP, Pembantu Ketua II Putri Bakri MIKom, Pembantu Ketua III Dr Hj Ramdeswati Pohan MSP, serta dosen dan mahasiswa.
Dalam pemaparannya, Sofyan Tan menyampaikan Indonesia saat ini telah memasuki era digital yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi, termasuk hadirnya AI yang mampu berfungsi sebagai asisten dalam berbagai bidang.
“Kemajuan teknologi harus dibarengi dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Tata krama dan kepekaan hati menjadi benteng agar teknologi digunakan secara benar,” ujarnya.
Menurutnya, AI dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan dan mempercepat proses belajar. Namun, pemanfaatannya harus diarahkan untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Ilmu yang diperoleh dari teknologi harus bisa diaplikasikan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Jika tidak, maka kemajuan itu akan sia-sia,” katanya.
Sofyan juga mengingatkan agar penggunaan AI tidak lepas dari nilai kebijaksanaan dan empati. Ia menilai karakter masyarakat Indonesia yang ramah dan peduli perlu terus dijaga di tengah kemajuan teknologi.
“AI mampu menyajikan banyak hal, tetapi pendidikan harus tetap menanamkan norma, kebijaksanaan, dan empati kepada mahasiswa,” pesannya.
Sementara itu, Ketua STIK-P Medan, Dr Sakhyan Asmara, menegaskan pemanfaatan AI dalam dunia akademik menjadi kebutuhan, khususnya bagi mahasiswa komunikasi.
“AI penting sebagai alat bantu pembelajaran, namun hasilnya tidak bisa diterima begitu saja. Pengguna harus melakukan verifikasi agar tidak terjadi kesalahan informasi,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan agar teknologi AI tidak disalahgunakan dan tidak membuat mahasiswa bergantung sepenuhnya.
“AI tidak boleh menjadikan mahasiswa malas belajar. Membaca dan berpikir kritis tetap harus ditingkatkan. Kuncinya adalah bijak dalam menggunakan teknologi,” tuturnya. (rel)
























