Friday, July 17, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Sejumlah WNI Diduga Palsukan Riset dengan AI di Forum Internasional Demi Travel Grant

Mistar.idKamis, 28 Mei 2026 pukul 10.18 WIB
sejumlah_wni_diduga_palsukan_riset_dengan_ai_di_forum_internasional_demi_travel_grant

Seorang oknum peneliti yang sedang mempresentasikan riset yang diduga palsu di ISPPD 2026, Denmark. (foto: Instagram @w.o.d.d/Mistar)

news_banner

Kopenhagen, MISTAR.ID

Dunia akademik Indonesia tengah menjadi sorotan setelah muncul dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi riset oleh sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark.

International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) dikenal sebagai forum ilmiah bergengsi yang mempertemukan peneliti, ilmuwan, dan tenaga medis dari berbagai negara untuk membahas perkembangan terbaru terkait pneumonia dan penyakit pneumokokus.

Konferensi ISPPD 2026 berlangsung pada 17–21 Mei 2026 di Kopenhagen. Dugaan pelanggaran etik dalam forum tersebut menuai perhatian luas karena terjadi di hadapan komunitas ilmiah dunia.

Kasus ini dinilai berpotensi mencoreng kredibilitas akademisi Indonesia di tingkat internasional. Sejumlah nama dengan inisial RF, RW, SHN, PR, dan RD disebut diduga terlibat dalam praktik tersebut.

Kasus ini mencuat setelah unggahan dosen Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika, melalui akun Instagram pribadinya @mandharabrasika, serta sorotan dari akun @w.o.d.d yang kemudian ramai diperbincangkan publik.

Dalam unggahannya, Ida Bagus mengungkap adanya dugaan pemalsuan identitas saat sesi presentasi ilmiah. Para peserta disebut berganti nama dan atribut, termasuk jilbab serta name tag, untuk berpindah-pindah sesi presentasi dalam waktu singkat.

Tak hanya itu, riset yang dipresentasikan juga diduga merupakan hasil fabrikasi data dan dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Poster penelitian disebut dicetak sederhana menggunakan kertas ukuran A4 dan tidak memenuhi standar presentasi ilmiah internasional.

“Risetnya dibuat terlihat hebat, padahal datanya diduga tidak pernah ada dan dihasilkan menggunakan AI,” tulis Ida Bagus dalam unggahannya.

Oknum peneliti memalsukan identitas dengan mengganti nama dan jilbab. DOK Instagram @mandharabrasika

Ia juga menyoroti sejumlah kejanggalan dalam isi penelitian. Beberapa riset mengklaim dilakukan di berbagai wilayah dunia seperti Peru, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Bangladesh, Kenya, Nepal, hingga India. Namun, seluruh penelitinya disebut berasal dari Indonesia tanpa melibatkan kolaborator lokal maupun mencantumkan persetujuan etik penelitian.

Kecurigaan semakin menguat setelah ditemukan kesamaan kesimpulan pada dua penelitian berbeda meskipun topik dan lokasi riset tidak sama.

Selain itu, salah satu afiliasi yang tercantum dalam poster penelitian, yakni “AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation, Jakarta, Indonesia”, disebut tidak memiliki jejak keberadaan yang jelas.

Dugaan pelanggaran ini akhirnya terungkap setelah seorang peserta asal Indonesia melaporkan kejanggalan tersebut kepada panitia konferensi.

Lebih lanjut, para oknum disebut pernah memperoleh travel grant dan penghargaan riset dalam sejumlah konferensi internasional lain, termasuk APASL STC 2025 dan ICRS 2025.

Menurut Ida Bagus, fasilitas hibah perjalanan itu diperoleh melalui abstrak penelitian singkat yang tidak mewajibkan lampiran data penelitian lengkap, sehingga celah manipulasi lebih mudah dilakukan dibandingkan proses review jurnal ilmiah.

Kasus ini memunculkan kekhawatiran terkait dampak jangka panjang terhadap reputasi akademisi Indonesia. Sejumlah akademisi menilai praktik tersebut dapat memengaruhi kepercayaan komunitas ilmiah internasional terhadap peneliti asal Indonesia.

Dosen Fisika Universitas Sumatera Utara, Rica Asrosa, juga menyampaikan keprihatinannya atas kasus tersebut. Ia meminta praktik semacam itu tidak dibiarkan karena berpotensi melahirkan budaya akademik yang tidak sehat di masa depan.

“Jangan sampai merusak integritas akademisi dan peneliti Indonesia di kancah internasional,” ujar Rica melalui akun Instagram @ricaasrosa.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN