Monday, July 6, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Memaknai dan Menatap 3 Wajah Roehana Koeddoes

Mistar.idJumat, 20 Februari 2026 pukul 11.54 WIB
memaknai_dan_menatap_3_wajah_roehana_koeddoes

Memaknai dan Menatap 3 Wajah Roehana Koeddoes. (foto: Ilustrasi/Mistar).

news_banner

Medan, MISTAR.ID


Lebih dari satu abad lalu, ketika pers masih dikuasai kolonial dan perempuan nyaris tak punya ruang bersuara, Roehana Koeddoes meniti jalan sunyi. Dia menyampaikan perubahan lewat tulisan dan pendidikan, untuk kaumnya. Padahal, saat itu kata emansipasi belum bergema seperti sekarang.

Dalam perjuangannya melalui surat kabar Soenting Melajoe dan Sekolah Kerajinan Amai Setia, Roehana menampilkan perannya dalam tiga wajah. Sebagai jurnalis, pendidik, dan entrepreneur yang mengajak kaumnya berdaya. Spiritnya relevan diterapkan hingga kini.

Suarakan Kesetaraan Pendidikan Perempuan

Nama Roehana Koeddoes mulai jadi perbincangan luas pada 2019, dikala negara menganugerahkannya gelar pahlawan nasional. Pengakuan itu datang atas dedikasinya di dunia jurnalistik dan perjuangannya mengangkat martabat perempuan sebelum Indonesia merdeka.

Namun sesungguhnya, gaung perjuangan Roehana telah menggema lebih dari 100 tahun lalu. Diawali dari halaman rumahnya di Koto Gadang, Sumatera Barat. Roehana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia tahun 1911. Di tempat itu, ia mengajarkan para perempuan membaca dan menulis.

Dia menyadari betul, pendidikan sebagai alat perjuangan yang dapat mengubah nasib perempuan.

Pemikiran Roehana terbentuk tidak begitu saja, terlahir dari keluarga yang hobi membaca. Ayahnya, Mohammad Rasjad Maharadja Soetan, yang kala itu menjabat kepala kejaksaan, rutin mengenalkan berbagai buku pengetahuan kepadanya.

Dari kebudayaan itu, habit membacanya tumbuh hingga memantik wawasan menjadi lebih luas. Dia pun berpikir bahwa tidak semua perempuan mempunyai kesempatan yang sama dengannya. Dari sinilah ide mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia, lahir.

Dalam proses mewujudkan impiannya, proses jatuh bangun dialami wanita kelahiran 20 Desember 1884 tersebut, kala itu penduduk Koto Gadang banyak yang melarang anaknya belajar. Menurut mereka saat itu, tugas wanita hanya di kasur, ladang dan dapur.

Kendati demikian, Roehana tidak pantang menyerah. Konsistensinya dalam mengedukasi membuat Sekolah Amai Setia, diterima masyarakat.

“Kemajuan zaman tidak akan pernah membuat kaum perempuan menyamai kaum lelaki. Perempuan tetap perempuan, dengan segala kekurangan dan kewajibannya yang berubah. Perempuan harus mendapatkan pendidikan yang lebih baik, tidak untuk ditakuti-takuti, dibodoh-bodohi, apalagi dianiaya,” ujar Pemred IDN Times, Uni Lubis, membacakan kutipan tulisan Roehana Koeddoes, dalam rangkaian acara Hari Pers Nasional 2026 di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).

Rangkaian acara Hari Pers Nasional 2026 di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (foto: amaisetiakg/instagram/Mistar)

Hadirkan Perempuan Berdaya

Selain mendidik para wanita, Roehana mengajarkan masyarakat belajar menjahit, menyulam, dan membuat bordir. Dari keterampilan itu muncul kain dengan motif bordir bunga yang estetik. Padahal, keahlian tersebut sebelumnya hanya dikuasai perempuan Belanda saja.

Usaha tidak menghianati hasil. Empat tahun berselang, karya-karya anak didik Roehana diakui pemerintah Belanda, hingga kerja sama ekonomi antar kedua pihak pun terjalin. Penjualan produk dari KAS laku dijual ke kota-kota besar hingga luar negeri.

“Dari menjual hasil kerajinan, wanita di Koto Gadang saat itu mendapatkan penghasilan yang sangat signifikan. Jadi Sekolah Amai Setia tidak hanya sebagai tempat membaca dan menulis, tetapi juga mereka mendapatkan penghasilan yang dapat membantu keluarga,” ujar Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu, di acara diskusi tersebut.

Kini, kata Trini, Sekolah Kerajinan Amai Setia berkembang menjadi Yayasan Kerajinan Amai Setia yang berfokus pada kerajinan dan pelestarian budaya Koto Gadang.

Menurut Trini, gagasan Roehana mendirikan sekolah ini menunjukkan bahwa mengisi ruang-ruang pendidikan adalah bekal penting agar perempuan tidak bergantung secara ekonomi kepada lelaki.

Roehana membuktikan bahwa perempuan juga mampu belajar, bekerja, dan menentukan masa depannya sendiri. Baginya, pendidikan adalah fondasi emansipasi yang paling kokoh.

Ia juga menegaskan bahwa apa yang dilakukan Roehana masih relevan dilakukan saat ini, asalkan pondasinya pengetahuan.

“Kaum perempuan harus dimajukan, mengikuti aliran zaman. Bangsa kita masih terbelakang dalam kemajuan hidup. Untuk itu, kaum perempuan harus memasuki sekolah seperti kaum pria. Karena dengan sekolahlah, ilmu pengetahuan diperoleh,” ujar Trini membacakan kutipan tulisan Roehana di acara tersebut.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar juga mengatakan, perjuangan pantang menyerah Roehana Koeddoes patut dicontoh karena lahir dari niat yang tulus untuk memajukan perempuan.

“Saya yakin, pada saat beliau berjuang, di hatinya hanya ada satu keinginan untuk memajukan nasib perempuan-perempuan di sekelilingnya. Itu adalah niat yang sangat mulia,” ujarnya.

“Roehana tidak mungkin memikirkan bahwa apa yang ia lakukan akan dikenang atau dikenal di masa depan. Artinya, ia bekerja sepenuhnya dari ketulusan hati. Dan apapun yang lahir dari hati yang paling tulus, itulah yang kelak akan dituai,” ujar Irene.

Potongan surat kabar Soenting Melajoe. (foto: amaisetiakg/instagram/Mistar)

Suarakan Perjuangan Perempuan Lewat Surat Kabar

Setelah mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia sebagai tempat belajar dan ber kemandirian secara ekonomi, pada 1912 Roehana mendirikan Soenting Melajoe di Kota Padang Panjang. Surat kabar ini didirikan untuk mewadahi pemikiran perempuan dalam menyampaikan perjuangannya.

Keberaniannya terletak pada konsistensi menyisipkan gagasan, kesetaraan di tengah norma adat dan tekanan kolonial. Dari sinilah Roehana dikenang sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia yang menggunakan pers sebagai medium perubahan sosial.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, bahkan tidak ragu menyebut Roehana sebagai pionir yang menyuarakan suara perempuan melalui jalan jurnalisme di tengah ragam keterbatasan zamannya. Karena itu, baginya semangat Roehana menyuarakan peran wanita di ruang publik masih sangat relevan diterapkan hingga saat ini.

“Bahwa perjuangan itu ada sejak tahun 1900-an. Dari dulu tantangannya luar biasa untuk perempuan dan Ibu Roehana Koeddoes menjadi pionir yang membuat kita semua harus terus semangat di era saat ini,” ujar Meutya di acara tersebut.

Lebih lanjut, kata Meutya, meski sudah hampir satu abad perjuangan Roehana menjadi tinta sejarah, ia melihat masih ada ruang kosong yang mesti diisi para jurnalis wanita. Misalnya dari perbandingan jumlah jurnalis wanita dengan pria. Jumlah jurnalis wanita di Indonesia hanya 25 persen dari jurnalis pria.

“Kalau total jurnalis 250 ribu, maka jurnalis perempuannya sekitar 62.500. Jadi PR (pekerjaan rumah) untuk mengisi ruang-ruang informasi bagi perempuan masih belum pada fase cukup,” ujarnya.

Ia juga berpendapat bahwa era digital saat ini menuntut jurnalis tidak hanya mengandalkan kecepatan berita. Dengan akses informasi yang mudah, diharapkan justru memotivasi para jurnalis perempuan menghasilkan karya jurnalistik yang inspiratif dan menggugah rasa.

Dulu yang digagas Roehana Koeddoes tidak pernah memiliki tujuan merendahkan martabat dan budaya bangsa atas nama kebebasan. Kini, banyak tulisan justru seperti itu. Karena itu, selain mengingatkan perjuangan perempuan, kita juga diingatkan untuk mengembalikan karya jurnalistik yang penuh rasa dan data, bukan emosi semata.

“Ini tantangan untuk kita bersama. Karena dengan digitalisasi yang mengutamakan kecepatan di berbagai sektor informasi dan tulisan, kepekaan itu terasa agak hilang dari tulisan-tulisan,” ujarnya.

Meneladani Roehana

Sementara itu, jurnalis senior Najwa Shihab mengatakan bahwa setiap zaman selalu punya cara untuk membungkam perempuan, tetapi setiap zaman pula selalu ada perempuan yang bersuara lantang menyampaikan gagasannya.

“Contohnya Roehana Koeddoes. Seratus tahun lalu ia menulis, dan yang menarik, ia membuka ruang sendiri. Ia tidak menunggu ruang publik datang, tetapi menuntut dan hadir di sana,” katanya.

Lebih lanjut, kata dia, Roehana juga memahami sesuatu yang sangat modern sebagai alat perjuangan. Yakni literasi yang membuat perempuan berpikir, kemandirian ekonomi yang menjadikan perempuan kuat, dan tulisan yang membuat pesan sampai ke masyarakat.

“Jadi Roehana Koeddoes memahami sesuatu yang sampai sekarang kita perjuangkan. Perempuan akan kuat kalau tidak bergantung. Roehana Koeddoes istimewa karena ia membuat sekolah, ia membuat perempuan berkarya, dan ia membuat suara sampai lewat tulisan. Di situlah keistimewaannya,” katanya.

Gadis-gadis yang sedang belajar merenda di Amai Setia pada zaman kolonial Belanda. (foto: Wikipedia/Mistar)

Melanjutkan Perjuangan Roehana

Sementara itu. Ketua Umum Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Khairiah Lubis, menyebut Roehana Koeddoes sebagai spirit bagi jurnalis perempuan hingga hari ini. Ia mengatakan, semangat yang dihidupi FJPI sejak berdiri pada 2007 berakar dari jejak Roehana.

“Roehana itu bagi jurnalis perempuan adalah spirit. Sejarah berdirinya FJPI tidak bisa dilepaskan dari semangat perintis jurnalis perempuan,” ujar Khairiah.

Ia menuturkan, kiprah Roehana tidak hanya tercatat di Koto Gadang melalui pendirian Sunting Melayu, tetapi juga memiliki keterhubungan dengan sejarah pers perempuan di Medan. Pada 1919, di Medan berdiri surat kabar Perempuan Bergerak yang diprakarsai Parada Harahap bersama istrinya, Butet Satijah. Di surat kabar itu Roehana juga menjadi penulis yang produktif menyuarakan perjuangan kaumnya.

“Di sana ia menulis "Perempuan Bergerak". Setelah saya telusuri, di koran itu juga ada nama Siti Rohana,” katanya.

Menurut Khairiah, jejak sejarah inilah yang membuat semangat jurnalis perempuan terus membara hingga kini. Ia menegaskan, jurnalis perempuan hari ini bukan memulai dari nol, melainkan melanjutkan perjuangan panjang yang telah diletakkan Roehana. (hm21).



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN