Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Hukum Berpuasa Tanpa Sahur

Mistar.idRabu, 18 Februari 2026 pukul 08.53 WIB
hukum_berpuasa_tanpa_sahur

Ilustrasi. (Foto: RRI)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Hukum berpuasa tanpa sahur kerap dipertanyakan, terutama ketika seseorang baru terbangun saat azan Subuh berkumandang. Dalam kajian fikih, puasa tetap dinilai sah selama niat telah dilakukan pada malam hari. Pasalnya, sahur bukan rukun puasa, melainkan amalan sunnah yang sangat dianjurkan.

Meski demikian, tidak sahur berarti melewatkan keberkahan sekaligus asupan energi yang membantu menjaga stamina sepanjang hari.

Para ulama menganjurkan agar puasa tetap dilanjutkan dan tidak dibatalkan hanya karena tidak sempat makan sahur, kecuali bila kondisi fisik benar-benar membahayakan kesehatan atau keselamatan.

Secara hukum, puasa tanpa sahur tetap sah selama rukun utamanya, yakni niat sebelum terbit fajar, telah terpenuhi. Dalam kitab Al-Fiqh 'ala Al-Madzahib Al-Arba'ah dijelaskan bahwa sahur termasuk sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), bukan syarat sah puasa.

Karena itu, orang yang tertidur hingga melewatkan waktu sahur tetap wajib meneruskan puasanya sampai Magrib.

Hal yang paling penting adalah keberadaan niat pada malam hari. Dalam Mazhab Syafi’i, niat puasa Ramadhan harus dilakukan sebelum fajar shadiq (tabyit).

Jika seseorang sudah berniat sebelum tidur, lalu bangun setelah Subuh tanpa sempat sahur, puasanya tetap sah. Niat inilah yang membedakan ibadah puasa dari sekadar menahan lapar dan dahaga.

Kementerian Agama Republik Indonesia melalui berbagai literatur dakwahnya juga menegaskan bahwa meninggalkan sahur tidak membatalkan puasa. Yang hilang hanyalah keutamaan dan keberkahan dari amalan tersebut.

Keutamaan Sahur Sebelum Puasa

Sahur memiliki posisi istimewa karena mengandung keberkahan yang tidak terdapat pada waktu makan lainnya.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.” Keberkahan ini mencakup aspek spiritual karena mengikuti sunnah Nabi dan aspek fisik berupa tambahan kekuatan untuk beribadah.

Selain menjadi sumber energi, waktu sahur juga diyakini sebagai saat turunnya rahmat Allah SWT serta doa para malaikat bagi orang-orang yang bangun untuk makan sahur.

Amalan ini juga menjadi pembeda antara puasa umat Islam dan umat-umat terdahulu. Di samping itu, sahur berlangsung pada sepertiga malam terakhir, waktu yang mustajab untuk memperbanyak istighfar dan doa.

Berikut sejumlah keutamaan sahur

  1. Mengikuti sunnah Nabi: Sahur merupakan bentuk ketaatan terhadap ajaran Rasulullah SAW.
  2. Keberkahan nutrisi: Asupan makanan membantu menjaga stamina selama beraktivitas.
  3. Pembeda dengan Ahli Kitab: Sahur menjadi ciri khas puasa umat Islam.
  4. Mendapat doa malaikat: Malaikat memohonkan ampunan bagi orang yang bersahur.
  5. Waktu mustajab berdoa: Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang baik untuk memanjatkan doa.
  6. Menjaga akhlak: Energi yang cukup membantu menahan emosi dan menghindari perilaku buruk akibat lapar.
  7. Memudahkan shalat Subuh tepat waktu: Orang yang bangun sahur memiliki peluang lebih besar melaksanakan Subuh berjamaah. (hm20)


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN