Thursday, June 18, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Era Digital Bikin Manusia Makin Pendiam, Lebih Irit Berbicara

Mistar.idKamis, 30 April 2026 09.26
EH
era_digital_bikin_manusia_makin_pendiam_lebih_irit_berbicara

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Kemajuan teknologi digital dan kebiasaan hidup serba online ternyata ikut mengubah cara manusia berinteraksi. Sebuah riset terbaru mengungkap jumlah kata yang diucapkan seseorang secara langsung kepada orang lain menurun drastis, bahkan hampir 28 persen dalam kurun waktu belasan tahun.

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari University of Missouri–Kansas City dan University of Arizona dengan membandingkan data dari 2005 hingga 2019. Para peneliti menilai, setelah pandemi yang memicu pembatasan sosial, penurunan tersebut kemungkinan menjadi lebih besar.

Dalam riset tersebut, peneliti menghitung rata-rata jumlah kata yang diucapkan manusia setiap hari. Mereka menganalisis data dari 22 studi yang melibatkan lebih dari 2.000 orang yang merekam audio aktivitas harian mereka.

Hasilnya, pada 2005 rata-rata seseorang masih mengucapkan sekitar 16.632 kata per hari. Namun seiring perubahan gaya hidup, mulai dari pesan makanan lewat aplikasi, meningkatnya kebiasaan chatting, hingga aktivitas yang makin bergeser ke ruang digital, angka itu turun tajam.

Pada 2019, rata-rata manusia hanya mengucapkan sekitar 11.900 kata per hari.

Anak muda paling terdampak

Peneliti menemukan generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan mengalami penurunan interaksi verbal ini.

Rinciannya sebagai berikut:

  1. Usia di bawah 25 tahun: berkurang 451 kata per hari setiap tahun
  2. Usia di atas 25 tahun: berkurang 314 kata per hari setiap tahun
  3. Rata-rata keseluruhan: berkurang 338 kata per hari setiap tahun

Jika tren ini terus berlanjut, para peneliti memperkirakan saat ini manusia mungkin hanya mengucapkan kurang dari 10.000 kata per hari.

The Wall Street Journal, Kamis (30/4/2026), menyoroti kekhawatiran soal dampak psikologis dari menurunnya interaksi langsung antarmanusia. Efeknya bukan hanya memicu rasa kesepian, tetapi juga meningkatkan risiko seseorang terjebak dalam teori konspirasi di internet.

Penulis studi juga menilai manusia perlahan mulai kehilangan keterampilan dasar dalam bercakap-cakap, termasuk etika sederhana seperti tidak memotong pembicaraan lawan bicara.

Meski terdengar mengkhawatirkan, profesor linguistik dari University of Nevada, Valerie Fridland, meminta masyarakat untuk tidak panik.

Menurutnya, perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari bisa membantu memperbaiki kondisi ini. Misalnya, orang tua lebih sering mengajak bayi berbicara, kembali menelepon keluarga secara langsung, hingga membiasakan diri menjauh sejenak dari smartphone di siang hari. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN