Thursday, October 15, 2026
home_banner_first
EDUKASI

6 Kalimat untuk Menenangkan Anak yang Sedang Marah, Orang Tua Wajib Tahu

Mistar.idKamis, 15 Oktober 2026 pukul 15.26 WIB
6_kalimat_untuk_menenangkan_anak_yang_sedang_marah_orang_tua_wajib_tahu

Ilustrasi anak marah (Foto: Istimewa/Mistar)

Jakarta, MISTAR.ID - Menghadapi anak yang sedang marah bukan perkara mudah bagi orang tua. Dalam situasi tertentu, anak bisa menangis, berteriak, merengek, atau menolak mendengarkan nasihat. Orang tua pun terkadang ikut terpancing emosi dan kesulitan menentukan respons yang tepat.

Padahal, cara orang tua merespons kemarahan anak dapat membantu membentuk kemampuan mereka dalam mengenali dan mengelola emosi. Kalimat seperti "sabar", "tenang", atau "jangan marah" belum tentu membuat anak merasa lebih baik jika disampaikan tanpa memahami penyebab emosinya.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah validasi emosi, yakni mengakui perasaan anak tanpa harus membenarkan semua perilakunya. Dengan merasa didengarkan dan dipahami, anak berpeluang lebih mudah menenangkan diri serta menyampaikan keinginannya dengan cara yang lebih baik.

Lantas, kalimat apa saja yang bisa diucapkan orang tua saat Si Kecil sedang marah? Berikut enam contohnya.

1. "Mama/Papa paham kamu sedang kesal"

Ketika anak mulai marah, orang tua bisa mengawali percakapan dengan mengakui perasaan yang sedang dialaminya. Kalimat sederhana ini menunjukkan bahwa orang tua memperhatikan kondisi emosional anak, bukan hanya perilakunya.

Samantha Stiles, terapis okupasi pediatri yang berbasis di Florida, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa ketika anak merasa diperhatikan alih-alih terus dikoreksi, mereka dapat memperoleh rasa aman yang membantu proses menenangkan diri.

Karena itu, sampaikan kalimat tersebut dengan suara lembut dan bahasa tubuh yang menenangkan. Hindari langsung menyalahkan atau memaksakan solusi ketika anak belum siap berbicara.

Jika Si Kecil masih menangis atau memilih diam, beri waktu untuk memproses perasaannya. Orang tua tetap bisa mendampingi tanpa mendesaknya untuk segera menjelaskan apa yang terjadi.

2. "Wajar kalau kamu merasa kecewa"

Anak perlu memahami bahwa marah, sedih, kecewa, dan frustrasi merupakan bagian dari pengalaman emosional yang normal. Namun, mereka mungkin belum selalu mampu mengenali perasaan tersebut atau memahami cara mengungkapkannya.

Orang tua dapat membantu dengan mengatakan bahwa rasa kecewa boleh dirasakan. Misalnya, ketika anak tidak diizinkan membeli mainan atau harus membatalkan rencana bermain, akui bahwa situasi tersebut memang bisa membuatnya sedih.

Meski demikian, menerima perasaan anak bukan berarti membiarkan semua tindakannya. Orang tua tetap perlu memberikan batasan yang jelas.

Contohnya, katakan, "Kamu boleh marah karena tidak jadi membeli mainan, tetapi kamu tidak boleh memukul atau melempar barang."

Dengan cara ini, anak belajar bahwa emosinya dapat diterima, sementara perilaku yang membahayakan orang lain tetap tidak diperbolehkan.

3. "Kita memang tidak bisa melakukan itu, tapi bagaimana kalau coba ini?"

Kemarahan anak juga bisa muncul ketika keinginannya tidak terpenuhi atau rencana yang dinantikan tiba-tiba berubah.

Misalnya, anak kecewa karena tidak bisa bermain bersama teman akibat cuaca buruk atau perubahan jadwal. Dalam kondisi tersebut, orang tua dapat mengakui rasa kecewanya terlebih dahulu sebelum menawarkan pilihan lain.

Cobalah mengatakan, "Mama tahu kamu ingin sekali bermain dengan temanmu. Hari ini belum bisa, tetapi bagaimana kalau kita mencari kegiatan lain atau menjadwalkan ulang?"

Berikan beberapa alternatif yang sesuai dengan usia anak. Orang tua juga bisa mengajaknya menyumbangkan ide agar ia merasa terlibat dalam menentukan solusi.

Pendekatan ini membantu anak belajar menghadapi perubahan dan memahami bahwa ketika satu rencana tidak berjalan, masih ada pilihan lain yang dapat dipertimbangkan.

4. "Perasaanmu wajar, kok. Coba cerita apa yang bikin kamu marah"

Terkadang, kemarahan anak muncul karena pengalaman yang menurut orang dewasa terlihat sepele. Namun, bagi anak, kejadian tersebut bisa terasa sangat mengecewakan atau menyakitkan.

Psikolog klinis Jaclyn Shlisky, yang berbasis di Florida, Amerika Serikat, menekankan pentingnya memahami penyebab kesedihan anak dan memvalidasi perasaannya sebelum mengalihkan perhatian ke hal lain.

Orang tua bisa menggunakan pertanyaan terbuka, seperti, "Apa yang membuat kamu marah?" atau "Tadi ada kejadian apa yang bikin kamu sedih?"

Dengarkan jawabannya tanpa terburu-buru menyela, menghakimi, atau membandingkan pengalaman anak dengan orang lain. Hindari pula respons seperti "Begitu saja kok marah?" karena dapat membuat anak merasa bahwa emosinya tidak dianggap penting.

Validasi bukan berarti orang tua harus selalu menyetujui sudut pandang anak. Hal terpenting adalah menunjukkan kesediaan untuk memahami apa yang dirasakannya.

5. "Coba sampaikan lagi dengan suara yang lebih pelan"

Saat marah, anak mungkin berteriak, merengek, atau berbicara dengan nada tinggi. Dalam situasi ini, orang tua perlu membantu anak belajar menyampaikan keinginan dengan cara yang lebih tepat.

Daripada membentak balik, gunakan kalimat yang tenang dan jelas. Misalnya, "Mama ingin mendengarkan kamu. Coba sampaikan lagi dengan suara yang lebih pelan, ya."

Pastikan nada bicara orang tua tidak terdengar mengejek atau mengancam. Tujuannya bukan membungkam anak, melainkan membantunya memahami bahwa cara berkomunikasi juga penting ketika sedang kesal.

Jika anak masih kesulitan mengendalikan emosinya, beri jeda sebelum melanjutkan percakapan. Setelah lebih tenang, orang tua dapat membantu anak mencoba kembali menyampaikan keinginannya.

Dengan latihan yang konsisten, anak dapat belajar bahwa ia tetap bisa didengarkan tanpa harus berteriak atau menggunakan perilaku agresif.

6. "Mama/Papa paham. Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan?"

Ketika anak berulang kali mengeluhkan masalah yang sama, orang tua dapat mengajaknya mencari jalan keluar bersama.

Setelah mendengarkan ceritanya, tanyakan apa yang menurutnya bisa dilakukan untuk memperbaiki situasi. Berikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapat tanpa langsung mengkritik setiap ide yang disampaikan.

Jika usulnya belum memungkinkan, bantu ia mempertimbangkan alternatif yang lebih aman dan realistis. Misalnya, ketika anak bertengkar dengan temannya, orang tua dapat mengajaknya memikirkan cara meminta maaf, menjelaskan perasaannya, atau mencari bantuan orang dewasa jika diperlukan.

Pendekatan ini memberi anak kesempatan berlatih memecahkan masalah dan mempertimbangkan pilihan. Ia juga belajar bahwa menghadapi emosi bukan hanya tentang meredakan kemarahan, tetapi juga mencari cara yang tepat untuk menyelesaikan persoalan.

Cara Orang Tua Membantu Anak Mengelola Emosi

Enam kalimat tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun komunikasi yang lebih sehat antara orang tua dan anak. Namun, cara penyampaiannya juga penting.

Usahakan berbicara dengan nada tenang, dengarkan anak tanpa meremehkan perasaannya, dan berikan waktu ketika ia belum siap berbicara. Orang tua tidak harus selalu menemukan solusi seketika. Terkadang, mendampingi anak sampai emosinya mereda sudah menjadi langkah yang berarti.

Di sisi lain, tetap tegakkan batasan terhadap perilaku yang membahayakan, seperti memukul, menendang, atau melempar benda. Orang tua dapat mengakui kemarahan anak sambil menghentikan tindakan tersebut dengan tegas dan aman.

Pada akhirnya, anak membutuhkan pendampingan untuk belajar memahami emosinya, bukan tuntutan agar selalu terlihat tenang. Melalui komunikasi yang konsisten, orang tua dapat membantu Si Kecil mengenali perasaan, mengungkapkannya dengan lebih baik, dan mengembangkan keterampilan mengelola emosi secara bertahap.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN