Pesta Tapai Batu Bara, Tradisi Turun-Temurun Sambut Bulan Suci Ramadan

Lemang, menjadi kuliner wajib yang banyak dijual pedagang di Pesta Tapai Desa Dahari Selebar Kabupaten Batu Bara. (Foto: Perdana/Mistar)
Batu Bara, MISTAR.ID
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana di Desa Dahari Selebar, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, tampak semarak. Ribuan warga tumpah ruah mengikuti tradisi tahunan Pesta Tapai, sebuah perayaan budaya yang sudah berlangsung turun-temurun dan selalu digelar sebulan sebelum Ramadan.
Aroma tapai manis yang difermentasi, lemang hangat yang dibakar dalam bambu, hingga aneka jajanan tradisional memenuhi sepanjang Dusun Pesta Tapai.
Musik, tawa anak-anak, dan deretan wahana permainan rakyat membuat suasana bak pasar malam. Bagi masyarakat setempat, Pesta Tapai bukan sekadar kuliner, melainkan simbol syukur dan kebersamaan menyambut bulan penuh berkah.
Tradisi ini pun kini menjelma menjadi wisata budaya dan wisata kuliner unggulan Batu Bara yang selalu dinanti setiap tahunnya.
Sejak pagi, para ibu rumah tangga terlihat sibuk menyiapkan tapai ketan dan lemang. Proses memasak dilakukan secara tradisional menggunakan kayu bakar. Tak heran jika cita rasanya khas dan sulit ditemukan di tempat lain.
Selain kuliner, panitia juga menghadirkan beragam hiburan rakyat seperti permainan anak, bazar UMKM, hingga pertunjukan seni Melayu yang membuat pengunjung betah berlama-lama.
“Setiap tahun kami tunggu momen ini. Rasanya belum lengkap menyambut Ramadan kalau belum makan tapai dan lemang di pesta ini,” ujar salah satu warga Kisaran yang datang ke pesta tapai ini, Rina, 34 tahun, Kamis (12/2/2026).
Dua Versi Sejarah Pesta Tapai, dari Kerajaan hingga Pedagang Kerbau
Di balik kemeriahannya, Pesta Tapai menyimpan sejarah panjang. Ada dua versi cerita yang berkembang di tengah masyarakat.
Menurut pegiat literasi sejarah lokal, Ahmad Syafii, tradisi ini diyakini bermula pada masa kerajaan pesisir sekitar tahun 1700.
“Konon, seorang bangsawan muda bernama Datuk Muda Abdul Jalil atau Datuk Lelawangsa membuka perkampungan di Batu Bara yang saat itu masih hutan belukar. Menjelang Ramadan, beliau menyembelih kerbau dan sapi lalu membagikan daging kepada warga agar kuat berpuasa,” jelas Syafii yang juga merupakan mahasiswa Universitas Asahan ini.
Dari kebiasaan berbagi itulah lahir tradisi makan bersama yang lambat laun berkembang menjadi pesta rakyat. Kini, meski daging tidak lagi dibagikan gratis, semangat kebersamaan tetap terjaga.
Versi kedua menyebutkan tradisi ini muncul sekitar tahun 1918, ketika masyarakat Melayu setempat menggelar mogang atau tradisi menyembelih hewan dua hari sebelum puasa.
Saat itu, pedagang kerbau dari Tapanuli meminta warga menyiapkan tapai dan lemang sebagai hidangan. Permintaan tersebut kemudian menjadi kebiasaan turun-temurun hingga akhirnya dikenal sebagai Pesta Tapai.
“Dari situlah masyarakat terbiasa membuat tapai dan lemang dalam jumlah besar. Tradisi itu bertahan lebih dari 100 tahun,” tutur Ahmad.
Seiring waktu, Pesta Tapai tak lagi sekadar acara adat. Pemerintah desa bersama masyarakat mengembangkannya menjadi event wisata tahunan setiap bulan Sya’ban.
Ratusan pedagang berjejer menjual makanan khas, mulai dari tapai, lemang, dodol, kue tradisional, hingga kuliner kekinian. Pengunjung pun datang dari berbagai daerah di Sumatera Utara.
Siti Aminah, pedagang tapai, mengaku omzetnya melonjak drastis selama pesta berlangsung.
“Biasanya sehari paling laku 50 bungkus. Saat Pesta Tapai bisa sampai 300 bungkus. Alhamdulillah rezekinya besar,” katanya sambil tersenyum.
Hal serupa diungkapkan Rahmat, penjual lemang. “Ini momen paling ditunggu pedagang. Pembeli datang terus dari sore sampai malam,” ujarnya.
Bagi warga, Pesta Tapai bukan hanya tentang jual beli, melainkan identitas budaya. Lebih dari sekadar festival, Pesta Tapai menjadi pengikat silaturahmi. Warga berkumpul, berbagi makanan, dan saling memaafkan sebelum memasuki Ramadan.
Tradisi yang telah bertahan ratusan tahun ini membuktikan bahwa kearifan lokal masih hidup dan relevan. Dan setiap kali Ramadan semakin dekat, Dusun Pesta Tapai selalu punya cara istimewa untuk menyambutnya.
Siap-siap, kalau berkunjung ke Batu Bara menjelang puasa, jangan lewatkan sensasi manisnya tapai dan hangatnya lemang di Pesta Tapai. (hm20)






















