Sunday, September 6, 2026
home_banner_first
BUDAYA

Hentakan Perkusi dan Alunan Dambus Warnai Hari Terakhir LTTMF 6.0

Mistar.idMinggu, 6 September 2026 pukul 16.57 WIB
hentakan_perkusi_dan_alunan_dambus_warnai_hari_terakhir_lttmf_60

Penampilan grup musik Dambus Aek Beguruh asal Bangka Belitung. (foto: maulana/mistar)

news_banner

Toba, MISTAR.ID - Hari terakhir penyelengaraan Lake Toba Traditional Music Festival (LTTMF) 6.0 di The Kaldera Toba Nomadic Escape, Minggu (6/9/2026), dibuka dengan hentakan musik yang kontras namun harmonis. Dua warna tradisi dari kawasan berbeda, Komunal Primitif Percussion (Sumatera Utara) dan Dambus Aek Beguruh (Bangka Belitung).

Komunal Primitif Percussion menggebrak panggung utama lewat eksplorasi ritme perkusi yang bertenaga. Dentum tabuhan yang presisi dan dinamis langsung membakar semangat penonton yang memadati area Kaldera Toba sejak siang.

Atmosfer panggung kemudian berganti hangat saat Dambus Aek Beguruh mengambil alih pentas. Mengusung identitas musik Melayu Bangka Belitung, alunan petikan dambus—alat musik petik khas berbentuk instrumen dawai dengan ukiran kepala hewan di ujungnya dan berpola khas yang dipadu ketukan gambus dan syair-syair tradisi menyajikan ketenangan yang kontras.

Di balik penampilannya yang hangat, ada tradisi spiritual yang dijaga ketat oleh kelompok asal Bangka Belitung tersebut sebelum memainkan musik. Mereka selalu menjalankan ritual khusus setiap kali hendak menyajikan seni tradisi ini di panggung.

"Sebelum tampil, kami selalu mengadakan ritual khusus seperti aksi teatrikal terlebih dahulu. Ini bagian dari tradisi spiritual untuk keselamatan, menjaga keseimbangan alam, serta menghormati tempat yang kami pijak. Bagi kami, musik tradisi bukan sekadar hiburan panggung, tapi ada nilai spiritual di dalamnya," ujar perwakilan grup Dambus Aek Beguruh di atas panggung.

Daya tarik panggung festival ini kian lengkap dengan keterlibatan aktif generasi muda. Musisi kenamaan Viky Sianipar menilai, keberadaan regenerasi di panggung utama menjadi nilai jual dan keistimewaan tersendiri bagi LTTMF tahun ini.

"Salah satu hal yang bikin event ini sangat menarik dan berdampak adalah keterlibatan anak-anak sekolah. Ketika anak-anak muda ini diberi panggung besar untuk membawakan musik dan tari tradisi, di situ kita melihat masa depan kebudayaan kita," kata Viky.

Direktur Program LTTMF 6.0, Ramanta Sinulingga, menegaskan perjumpaan dimensi spiritual, regenerasi anak muda, penonton umum, hingga jejaring internasional di panggung penutup ini adalah bukti nyata bahwa lewat tradisi, semuanya bisa berbaur.

"LTTMF tidak dirancang sekadar sebagai panggung pertunjukan rutin, melainkan ekosistem perjumpaan utuh. Di sini, akar spiritualitas tradisi terjaga, anak-anak muda terlibat langsung, publik menikmati dengan antusias, dan di saat bersamaan para musisi kita bertukar akses langsung dengan para jejaring industri global. Inilah titik temu di mana tradisi tidak cuma dirawat, tapi diproyeksikan masuk ke ranah musik dunia," kata Ramanta.

Penampilan grup musik Dambus Aek Beguruh asal Bangka Belitung. (foto: maulana/mistar)

Rangkaian kegiatan ini menyedot perhatian beragam kalangan pengunjung. Hendra Siregar, wisatawan asal Medan, mengaku tak sengaja menyaksikan festival ini saat membawa keluarganya berlibur ke kawasan Kaldera Toba.

"Awalnya cuma niat jalan-jalan liburan keluarga ke Kaldera. Kaget begitu sampai ternyata ada festival musik tradisi sebagus ini. Anak-anak malah senang sekali bisa lihat alat-alat musik unik yang jarang mereka temui di kota," kata Hendra.

Berbeda dengan Hendra, Rian Purba, warga Pematangsiantar, justru sengaja datang ke lokasi khusus untuk menyaksikan hari penutupan LTTMF 6.0.

"Saya memang memantau jadwalnya dari media sosial dan sengaja datang hari ini untuk nonton pertunjukan grup-grup tradisi, terutama dari luar Sumatera. Jarang sekali bisa nonton grup luar daerah tampil langsung di alam terbuka seperti ini," tutur Rian.

Skala penyelenggaraan tahun ini cukup besar dengan keterlibatan 122 peserta yang mencakup musisi hingga sembilan delegasi strategis. Enam delegasi domestik diisi oleh Bagas (Jazz Gunung Bromo), Satria Ramadan (Aksian Festival Bali), Hilmi Faik (Harian Kompas), Viky Sianipar, Rino Djapari (Riau Rhythm), serta Agus Basuni (World Meeting Jazz Jakarta).

Sementara tiga delegasi internasional diperkuat oleh Jay Nayongjo (Festival Director dari Korea), Muhammad Arif (label rekaman Malaysia), dan Ridwan Jalani (komposer dan direktur festival Singapura), bersanding dengan para penampil dari Singapura, Malaysia, dan Korea.

Penyelenggaraan LTTMF 6.0 sendiri merupakan buah kolaborasi Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Film, Musik dan Seni, Manajemen Talenta Nasional (MTN), Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), serta Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif.

Selain Komunal Primitif Percussion dan Dambus Aek Beguruh, festival penutup ini turut menghadirkan penampil lintas daerah dan negara, seperti Dipamkara (Jambi), Shaziva (Kepulauan Riau), Mara Swara (Sumut), Spice of Svara x Putra Gonk (Bangka Belitung), Gaung Merawa (Sumbar), BanyakBunyiRepublik (Malaysia), Eta Margondang (Sumut), hingga Siantar Rap Foundation.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN