22.9 C
New York
Thursday, June 1, 2023

Momentum Nataru, Produsen Diminta Utamakan Distribusi di Sumut

Medan, MISTAR.ID

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) mencatat, bahwa sejumlah komoditi pangan mengalami kenaikan harga dari 0 hingga 20% sejak dua pekan terakhir pada Desember 2022.

Kenaikan harga ini menjadi salah satu pemicu tingginya inflasi, selain ketersediaan pasokan barang.

Hal itu disampaikan Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumut Naslindo Sirait sekaligus mewakili Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumut dalam keterangan persnya, terkait perkembangan harga komoditi pangan yang mempengaruhi angka inflasi daerah, Kamis (22/12/22) sore, di Ruang Rapat Lantai VIII Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30 Medan.

Turut hadir di antaranya, Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut Lusyantini, Plt Kepala Dinas Kominfo Sumut diwakili Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Publik Iwan Sutani Siregar, serta puluhan wartawan unit Pemprov Sumut.

Baca Juga:H-3 Natal Harga Komoditi di Medan Terus Berfluktuasi

Disampaikan Naslindo, bahwa tingkat inflasi di Sumut hingga November 2022 sudah mencapai 5%. Sementara targetnya hingga akhir tahun dapat bertahan di bawah itu, di mana hingga pekan kedua Desember kenaikan sudah berada pada kisaran 0,5%.

Sehingga, perlu upaya untuk menahan laju inflasi di 0,4%.

“Ke depan kita harus dapat menahan laju inflasi ke kisaran 0,4% agar target inflasi di bawah 5% dapat dicapai di akhir tahun,” katanya.

Adapun penyebab terjadinya kenaikan harga yang memicu tingginya inflasi di Sumut, berdasarkan temuan di lapangan, ternyata beberapa komoditas yang didistribusikan ke luar Sumut.

Sementara, kebutuhan dalam provinsi sendiri, tidak kalah besarnya.

Baca Juga:Sidak Kebutuhan Nataru di Pasar, Tim Satgas Pangan Temukan Kenaikan Harga Komoditi

“Contoh temuan di lapangan pada satu produsen telur ayam, yang mendistribusikan produksinya keluar Sumut. Misalnya kiriman ke Jakarta mencapai 9.616 ikat, Aceh 943 ikat dan Batam 3.710 ikat (15 kg per ikat),” katanya.

Sedangkan untuk distribusi di Sumut, khususnya ke Medan, sebanyak 5.555 ikat. Artinya ada 71% yang keluar dan hanya 29% yang didistribusikan di dalam provinsi, sekaligus penyebab kenaikan harga yang juga terjadi pada komoditi seperti cabai merah.

Berdasarkan data perkembangan harga komoditas pangan selama dua pekan di Desember 2022 (1-16/12/2022), cabai merah mengalamai kenaikan signifikan sebesar 20%.

Dari Rp28.868/kg di awal Desember, menjadi Rp34.930/kg pada 16 Desember. Begitu juga cabai rawit hijau yang naik 16% selama dua pekan, telur ayam ras naik 3,4%, daging ayam 2,9% dan ikan gembung 1,2%.

Baca Juga:Kolaborasi Pemko Medan-Pemkab Dairi Kendalikan Komoditi Pangan Diapresiasi

Kenaikan ini masih memungkinkan untuk bergerak, mengingat semakin dekatnya momentum perayaan hari Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022-2023.

Ditambahkan Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut Lusyantini, data selama lima tahun terakhir menjelang hari besar keagamaan baik Natal dan Tahun Naru juga Idulfitri, permintaan kebutuhan pasti meningkat.

“Jadi seperti dikatakan Pak Naslindo bahwa di Sumut ini produksi kita cukup. Hanya saja, produksi ini terus berjalan atau bergerak ada produksi yang keluar Sumut dan sebaliknya. Tapi dipastikan berdasarkan catatan kita dan BPS juga bahwa kita ini masih swasembada,” pungkasnya.(anita/hm10)

Related Articles

Latest Articles