Wednesday, July 1, 2026
home_banner_first
WISATA

Musim Pendakian Everest Dibuka, Ancaman Serac Intai Jalur Utama

Mistar.idRabu, 13 Mei 2026 pukul 05.30 WIB
musim_pendakian_everest_dibuka_ancaman_serac_intai_jalur_utama

Ilustrasi pendakian Everest. (Foto: Istimewa)

news_banner

Nepal, MISTAR.ID

Musim pendakian Gunung Everest di perbatasan Nepal dan Tibet resmi dibuka meski ancaman maut mengintai di jalur utama menuju puncak tertinggi dunia itu.

Sekitar 410 pendaki mancanegara bersama jumlah yang sama dari pemandu lokal Sherpa saat ini telah berada di Base Camp pada ketinggian 5.300 meter di atas permukaan laut. Mereka bersiap memanfaatkan cuaca cerah pada Mei untuk mencapai puncak Everest setinggi 8.850 meter.

Pembukaan jalur pendakian tahun ini sempat tertunda selama dua minggu akibat keberadaan serac atau bongkahan es raksasa di kawasan Khumbu Icefall. Tim penyelamat “Icefall Doctors” terpaksa membuat jalur baru yang melintas tepat di bawah bongkahan es retak tersebut.

Lembaga komite lingkungan Nepal, Sagarmatha Pollution Control Committee (SPCC), mengeluarkan peringatan keras terkait kondisi jalur pendakian tahun ini.

“Bongkahan es tersebut memiliki banyak retakan dan dapat runtuh kapan saja. Kami mendesak seluruh operator ekspedisi dan pendaki untuk berhati-hati secara ekstrem,” demikian pernyataan SPCC dikutip dari The Independent.

Khumbu Icefall dikenal sebagai salah satu jalur paling berbahaya di Everest karena pergerakan gletser dan bongkahan es besar yang sewaktu-waktu dapat memicu longsoran salju.

Pemandu gunung internasional, Lukas Furtenbach, mengaku khawatir dengan kondisi jalur pendakian tahun ini.

“Siapa pun yang mengatakan tidak khawatir, berarti dia tidak berpengalaman atau tidak memperhatikan. Jalur tahun ini lebih kompleks dan terbuka dibandingkan tahun lalu,” ujarnya dari Base Camp.

Untuk mengurangi risiko, tim ekspedisi menerapkan sejumlah strategi, seperti mengurangi beban logistik agar pendaki dapat bergerak lebih cepat serta melintasi area berbahaya hanya pada pagi hari ketika kondisi es masih membeku.

Para pendaki juga diminta mengikuti penilaian risiko dari Sherpa paling berpengalaman selama perjalanan menuju puncak.

Meski biaya ekspedisi meningkat akibat dampak perang Iran dan kenaikan tarif izin pendakian dari pemerintah Nepal, minat terhadap Everest tetap tinggi.

Ang Tshering Sherpa dari Asian Trekking menyebut terjadi perubahan demografi pendaki tahun ini. Jumlah pendaki dari Amerika Serikat dan Eropa menurun, sementara pendaki dari negara-negara Asia mengalami peningkatan.

Selain itu, penutupan jalur utara oleh China membuat seluruh pendaki tahun ini terpusat di jalur selatan melalui Nepal. (hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN