Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
SUMUT

Warga Harus Melewati Arus Sungai Menuju Desa Sibiobio Tapteng

Mistar.idJumat, 20 Februari 2026 23.49
journalist-avatar-top
FM
warga_harus_melewati_arus_sungai_menuju_desa_sibiobio_tapteng_

Personil Polres Tapteng melewati salah satu sungai saat menyalurkan bantuan kepada warga yang terdampak bencana alam di Desa Sibio-bio, Kecamatan Sibabangun. (foto: Feliks/mistar)

news_banner

Tapteng, MISTAR.ID

Warga Desa Sibiobio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) harus mempertaruhkan nyawanya saat melintasi arus sungai menuju pulang-pergi ke kampung halaman mereka.

Derasnya arus Sungai Muara Sibuntuon memaksa warga harus melewatinya untuk membawa logistik makanan menuju Desa Sibiobio. Sejumlah anak dan ibu-ibu bahkan harus diseberangkan dibantu orang dewasa beramai-ramai agar selamat melewati arus sungai yang meluap akibat hujan deras sejak 16 Februari lalu.

Mengetahui kondisi itu, personel Polres Tapteng kembali menyalurkan bantuan sosial berupa bahan pokok kepada masyarakat di Desa Sibiobio yang masih terisolir itu, pada Jumat (20/2/2026). Langkah ini diambil sebagai upaya meringankan beban masyarakat Desa Sibiobio pascabencana banjir susulan yang melanda wilayah tersebut pada 16 Februari 2026.

Kapolres Tapteng, AKBP Muhammad Alan Haikel menyerahkan bantuan tersebut kepada Kepala Desa Sibiobio, Damianus Zendrato, untuk kemudian didistribusikan secara merata kepada warga yang paling membutuhkan.

Saat penyaluran bantuan, tim personel Polres Tapteng harus menghadapi tantangan medannya yang signifikan menuju desa itu. Sebab, sejak bencana alam pada 25 November 2025 lalu, jembatan penghubung antara Desa Sibiobio dengan Desa Muara Sibuntuon putus total.

Hingga kini, infrastruktur itu belum pulih, sehingga membatasi akses transportasi dan distribusi logistik ke wilayah tersebut. Untuk mencapai lokasi, tim Personel Polres Tapteng harus menempuh jarak sejauh 3 kilometer dengan medan yang sulit. Pascabencana, akses menuju desa tersebut hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki dan menyeberangi sungai.

Namun, setelah melewati arus sungai deras, saat ini jalur tersebut telah dapat dilalui kendaraan roda dua, meskipun kondisi jalan masih memerlukan kewaspadaan tinggi.

"Kami berharap bantuan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan pokok keluarga di masa pemulihan bencana yang terjadi di Tapteng," ujar AKBP Muhammad Alan Haikel.

Bantuan yang disalurkan meliputi paket sembako di antaranya beras, mi instan, sarden, hingga kebutuhan khusus seperti popok bayi (pampers).

Kapolres juga mengajak warga untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan serta saling bahu-membahu dalam menjaga keamanan lingkungan.

Sementara itu, Kepala Desa Sibiobio, Damianus Zendrato mengatakan, Desa Sibio-bio memiliki empat dusun yang dihuni sekitar 200 Kepala Keluarga (KK).

"Desa kami hingga saat ini masih terisolir pascabencana 25 November 2025 lalu. Warga terpaksa harus bertarung nyawa membawa logistik ke desa ini," tuturnya.

Damianus menyebut sebelumnya warga tidak bisa melewati sungai itu saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Desa Muara Sibuntuon dan Desa Sibiobio pada Senin (16/2/2026).

Saat itu, bertepatan dengan hari pekan, warga Desa Sibiobio tengah berada di Desa Muara Sibuntuon untuk berbelanja kebutuhan pokok selama sepekan. Curah hujan yang turun hampir sepanjang hari menyebabkan debit air Sungai Muara Sibuntuon meningkat drastis hingga tidak dapat diseberangi.

"Akibatnya, warga sempat tertahan di Desa Muara Sibuntuon dan terpaksa mengungsi sementara di rumah kerabat sambil menunggu air surut," katanya.

Dengan peralatan seadanya, warga Desa Muara Sibuntuon dan Desa Sibiobio saling membantu proses penyeberangan. Anak-anak yang tidak mampu berenang diikat menggunakan tali pengaman.

"Bahkan saat itu, ada anak yang harus dimasukkan ke dalam karung untuk memudahkan proses penyeberangan di tengah arus yang masih kuat," katanya.

Derasnya arus sungai, warga yang dewasa pun bisa terseret arus. Namun berkat kerja sama dan pertolongan warga yang berjaga di kedua sisi sungai, seluruh warga berhasil selamat tanpa korban jiwa.

Warga setempat, Mei Yaman Zebua, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan perlunya perhatian serius pemerintah terhadap infrastruktur penghubung kedua desa.

Mei Yaman berharap jembatan permanen dinilai menjadi kebutuhan mendesak karena selama ini sungai menjadi satu-satunya akses utama masyarakat untuk beraktivitas, termasuk kegiatan ekonomi dan pendidikan.

"Kami berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan serta meningkatkan sistem mitigasi bencana untuk mencegah risiko korban jiwa kemudian hari," ucapnya.