Saturday, October 10, 2026
home_banner_first
SUMUT

PLTA Batangtoru Berkapasitas 510 MW Disiapkan Dukung Kelistrikan di Sumatra

Mistar.idSabtu, 10 Oktober 2026 pukul 20.55 WIB
plta_batangtoru_berkapasitas_510_mw_disiapkan_dukung_kelistrikan_di_sumatra

PT NSHE mengembangkan PLTA Batangtoru berkapasitas 510 MW untuk mendukung keandalan pasokan listrik di Sumatra. (foto: Dok. PT NSHE/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - PT North Sumatera Hydro Energy (PT NSHE) mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pembangkit ini dirancang untuk mendukung keandalan pasokan listrik di Sumatra, termasuk menjaga stabilitas jaringan saat terjadi gangguan maupun ketika kebutuhan listrik meningkat.

Direktur Teknik PT NSHE, Erwin Ansori, mengatakan PLTA Batangtoru memanfaatkan potensi aliran Sungai Batangtoru dengan kapasitas terpasang 4 x 127,5 MW. Pembangkit tersebut dirancang memiliki fleksibilitas dalam memasok daya sehingga dapat merespons kebutuhan sistem kelistrikan dengan cepat.

“Dengan memaksimalkan potensi air di daerah Batangtoru, kami berharap PLTA ini bisa memberi kontribusi untuk ketahanan sekaligus transisi energi yang lebih bersih, serta menambah pasokan kelistrikan di Sumatra,” kata Erwin dalam keterangan tertulis kepada Mistar, Sabtu (10/10/2026).

Selain memasok listrik, PLTA Batangtoru dirancang memiliki kemampuan black start, yakni kemampuan memulai pengoperasian tanpa bergantung pada pasokan listrik dari luar. Fitur ini dapat mendukung pemulihan sistem kelistrikan setelah terjadi pemadaman total.

Erwin menjelaskan, pembangkit tersebut juga menerapkan sistem peaker-follower dengan skema waduk harian (daily pondage). Sistem ini memungkinkan daya ditingkatkan dengan relatif cepat untuk memenuhi kebutuhan listrik saat beban puncak.

“Kemampuan ini penting guna menjaga stabilitas pasokan listrik terutama saat beban puncak. Selain itu juga dapat mengurangi ketergantungan pembangkit berbahan bakar fosil,” ujarnya.

Dalam pengoperasiannya, air yang digunakan untuk memutar turbin di rumah pembangkit (power house) akan dialirkan kembali ke Sungai Batangtoru. Menurut NSHE, pengaturan tersebut dilakukan berdasarkan prosedur pemantauan debit sungai untuk menjaga keselamatan kawasan hilir.

Dari sisi konstruksi, PLTA Batangtoru menggunakan terowongan pembawa air (head race tunnel) sepanjang 12,2 kilometer dengan diameter 8,8 meter. Penggunaan terowongan bawah tanah tersebut dirancang untuk mengurangi bukaan lahan di permukaan.

Perencanaan bangunan utama, termasuk bendungan tipe concrete gravity dam, surge tank, power house, dan switchyard, juga disesuaikan dengan kajian teknis kawasan serta analisis bahaya kegempaan (Seismic Hazard Assessment).

Tenaga Ahli PT NSHE, Hadi Susilo, mengatakan desain bendungan, waduk, dan bangunan pelengkap telah disesuaikan dengan ketentuan keselamatan bendungan. Menurutnya, desain tersebut juga telah mendapat persetujuan Menteri Pekerjaan Umum berdasarkan rekomendasi teknis Komisi Keamanan Bendungan melalui Kantor Balai Teknik Bendungan.

Infrastruktur pendukung berupa jaringan transmisi 275 kilovolt (kV) turut disiapkan untuk menghubungkan pembangkit dengan sistem kelistrikan.

Sementara itu, Manajer Kualitas PT NSHE, Zul Fadli, mengatakan keandalan instalasi didukung pemasangan sejumlah instrumen pemantauan, antara lain extensometer, piezometer, dan strong motion accelerograph. PLTA Batangtoru juga didukung sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) yang telah disosialisasikan kepada masyarakat sekitar.

“Keselamatan merupakan bagian dari setiap tahapan pekerjaan. Kesiapan instalasi kami ukur dari hasil pengujian dan data pemantauan berkala. Pengembangannya juga disertai dengan pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai dengan dokumen yang berlaku,” tuturnya. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN