VIDA Kembangkan AI Shield untuk Lawan Deepfake dan Fraud Digital

Booth instalasi VIDA dalam acara “Beyond Liveness” di Jakarta. (Foto: Istimewa)
Jakarta, MISTAR.ID
VIDA memperkuat sistem keamanan digitalnya melalui pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menghadapi ancaman deepfake dan fraud digital yang semakin canggih.
Langkah tersebut diperkenalkan lewat kampanye Beyond Liveness, di tengah meningkatnya serangan siber yang mulai mampu menembus sistem verifikasi biometrik konvensional.
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur mengatakan metode keamanan digital saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan teknologi liveness detection yang selama ini digunakan untuk memastikan pengguna merupakan manusia asli.
Menurutnya, pelaku kejahatan siber kini memakai teknik yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar menggunakan foto atau video replay.
“Setiap serangan modern memiliki kesamaan. Mereka mampu melewati satu lapisan pertahanan. Artinya, pendekatan keamanan harus berubah secara fundamental,” ujarnya dalam peluncuran Beyond Liveness baru-baru ini.
Ia menjelaskan, salah satu ancaman terbaru adalah serangan injeksi langsung ke aliran data aplikasi. Teknik ini memungkinkan video sintetis atau deepfake masuk ke sistem tanpa harus melalui kamera perangkat pengguna.
Selain itu, muncul pula praktik fraud-as-a-service, yakni infrastruktur penipuan berbasis cloud yang memungkinkan pelaku menjalankan ribuan perangkat virtual secara bersamaan menggunakan emulator dan mesin virtual.
Pelaku juga memanfaatkan GPS spoofing untuk memalsukan lokasi agar terlihat berasal dari Indonesia, meski sebenarnya beroperasi dari luar negeri.
Sebagai respons, VIDA mengembangkan sistem multi-layered defense dengan 18 lapisan perlindungan yang bekerja secara bersamaan dalam proses verifikasi identitas digital.
Perusahaan identitas digital dan fraud prevention di Indonesia ini, turut menghadirkan VIDA Liveness dan ID Fraud Shield, dua mesin berbasis AI yang menggabungkan lebih dari 400 sinyal data dalam setiap transaksi.
Teknologi tersebut tidak hanya memeriksa kecocokan wajah pengguna, tetapi juga menganalisis perilaku, perangkat, jaringan, hingga pola historis penggunaan.
ID Fraud Shield diklaim mampu mendeteksi deepfake dalam proses know your customer (KYC) dan memastikan hanya pengguna sah yang dapat lolos verifikasi.
“Ini adalah tingkat pertahanan terdalam yang pernah kami bangun. Sistem tidak hanya memeriksa apakah wajah itu asli, tetapi juga mampu mendeteksi software akses jarak jauh yang berjalan di perangkat,” kata Niki.
Menurutnya, salah satu modus penipuan yang saat ini marak terjadi di Indonesia adalah rekayasa sosial. Pelaku biasanya menyamar sebagai pihak bank atau instansi resmi untuk membujuk korban menginstal aplikasi berisi perangkat remote access.
Dalam kondisi tersebut, korban tanpa sadar memberikan kendali penuh atas perangkatnya kepada pelaku. Bahkan, korban menggunakan wajahnya sendiri saat menyetujui transaksi sehingga sulit dideteksi sistem biometrik biasa.
Melalui pemanfaatan AI dan deep learning, ID Fraud Shield disebut mampu membaca pola aktivitas mencurigakan secara simultan, termasuk mendeteksi satu perangkat yang digunakan untuk mengajukan pinjaman atas nama banyak identitas berbeda.
Selain melakukan deteksi dini, sistem tersebut juga dapat memblokir otomatis pengguna yang masuk dalam daftar hitam guna mencegah potensi fraud digital lebih lanjut. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Nintendo Naikkan Harga Switch 2 Imbas Tekanan Pasar GlobalBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER























