Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Suara AI dan Manusia Kini Makin Sulit Dibedakan, Simak Dampak dan Ancamannya

Mistar.idRabu, 8 Oktober 2025 pukul 05.00 WIB
suara_ai_dan_manusia_kini_makin_sulit_dibedakan_simak_dampak_dan_ancamannya

Ilustrasi, Suara AI dan Manusia Kini Makin Sulit Dibedakan, Simak Dampak dan Ancamannya. (foto:chatgpt/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin menakjubkan sekaligus mengkhawatirkan. Suara yang dihasilkan mesin, yang dulunya mudah dikenali karena nada datar dan penyampaian mekanis, kini nyaris tak bisa dibedakan dari suara manusia sungguhan.

Hal ini terungkap dalam sebuah studi terbaru yang diterbitkan pada 24 September 2025 di jurnal ilmiah PLoS One. Para ilmuwan menemukan bahwa mayoritas pendengar kini kesulitan membedakan suara manusia asli dengan suara hasil rekayasa AI, atau yang dikenal sebagai “deepfake voice.”

Suara AI Semakin Realistis, Pendengar Kian Tertipu

Penulis utama studi, Nadine Lavan, dosen senior psikologi di Queen Mary University of London, menjelaskan bahwa AI kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari Siri, Alexa, hingga layanan pelanggan otomatis.

“Suara-suara itu memang belum sepenuhnya terdengar seperti manusia, tetapi hanya masalah waktu sebelum teknologi AI menghasilkan ucapan yang benar-benar natural,” ujar Lavan dalam keterangan resminya. Demikian dikutip mistar dari media livescience.

Dalam penelitian ini, tim peneliti memberikan 80 sampel suara kepada para peserta — terdiri dari 40 suara manusia dan 40 suara buatan AI. Hasilnya cukup mencengangkan:

- 41% suara AI murni masih bisa dikenali sebagai buatan mesin,

- namun 58% suara hasil kloning (deepfake) justru dikira suara manusia asli.

Sementara itu, 62% suara manusia asli juga dinilai peserta sebagai suara manusia. Perbedaan tipis ini menunjukkan bahwa kemampuan manusia membedakan suara asli dan hasil kloning hampir hilang.

Ancaman Nyata: Deepfake Bisa Jadi Senjata Siber dan Alat Penipuan

Temuan ini menimbulkan kekhawatiran besar dalam bidang keamanan digital dan etika teknologi.

“Jika seseorang bisa mengkloning suara Anda, mereka bisa melewati autentikasi suara di bank atau menipu orang terdekat Anda,” kata Lavan.

Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Pada 9 Juli 2025, seorang wanita bernama Sharon Brightwell kehilangan USD 15.000 (sekitar Rp245 juta) setelah menerima panggilan dari seseorang yang terdengar seperti putrinya. Dalam tangis, “putrinya” meminta uang untuk bantuan hukum. Belakangan diketahui suara itu adalah hasil rekayasa AI.

Kasus lain juga terjadi di Australia. Penipu membuat tiruan suara AI Perdana Menteri Queensland, Steven Miles, untuk mempromosikan penipuan investasi Bitcoin. Fakta ini menunjukkan betapa realistis dan berbahayanya teknologi audio deepfake jika digunakan untuk kejahatan siber.

Mudah Dibuat, Murah, dan Semakin Canggih

Yang lebih mengkhawatirkan, teknologi ini ternyata tidak membutuhkan alat mahal atau keahlian tinggi.

Dalam studi tersebut, para peneliti hanya memakai perangkat lunak komersial umum dan rekaman suara manusia selama empat menit untuk melatih model AI.

“Prosesnya hanya butuh keahlian minimal, biaya rendah, dan hasilnya sudah cukup meyakinkan,” ungkap Lavan.

Sisi Positif: AI Suara untuk Aksesibilitas dan Pendidikan

Meski memiliki sisi gelap, teknologi suara AI juga menyimpan potensi besar untuk kebaikan.

“Dengan pengawasan yang tepat, suara sintetis dapat digunakan untuk meningkatkan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, mendukung pendidikan, atau memperkaya pengalaman komunikasi digital,” ucap Lavan.

Para ahli menekankan pentingnya regulasi, transparansi, dan literasi digital, agar masyarakat dapat lebih siap menghadapi risiko penyalahgunaan teknologi AI yang terus berkembang. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN