Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Ilmuwan Australia dan Jepang Usulkan Baterai Kuantum Sumber Daya Super Komputer

Mistar.idJumat, 30 Januari 2026 pukul 08.38 WIB
ilmuwan_australia_dan_jepang_usulkan_baterai_kuantum_sumber_daya_super_komputer

Ilustrasi baterai kuantum. (Foto: Shutterstock)

news_banner

Canberra, MISTAR.ID

Para ilmuwan dari Australia dan Jepang mengusulkan desain komputer kuantum baru yang ditenagai oleh baterai kuantum, sebuah terobosan yang berpotensi membuat komputer masa depan lebih cepat, lebih andal, dan lebih hemat energi.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Physical Review X, tim peneliti secara teoretis menunjukkan bahwa baterai kuantum berukuran sangat kecil dapat digunakan untuk memasok daya bagi komputer kuantum. Teknologi tersebut disebut mampu meningkatkan jumlah bita kuantum atau qubit hingga empat kali lipat.

Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran Australia (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation/CSIRO) dalam rilis persnya pada Kamis (29/1/2026) menyebutkan penggunaan baterai kuantum memungkinkan komputer kuantum menggunakan energi jauh lebih sedikit.

Salah satu penulis studi sekaligus pemimpin penelitian baterai kuantum di CSIRO, James Quach, mengatakan baterai kuantum internal dapat mendaur ulang energi di dalam sistem selama pengoperasian.

“Baterai kuantum berukuran kecil namun sangat bertenaga,” ujar Quach. Ia menambahkan, teknologi tersebut dapat membantu mengatasi tantangan energi, pendinginan, dan infrastruktur dengan menghadirkan sistem penyimpanan daya internal yang dapat mengisi ulang dirinya sendiri.

Komputer kuantum bekerja dengan memanfaatkan hukum fisika kuantum untuk menyelesaikan berbagai persoalan kompleks di bidang komputasi, kedokteran, energi, keuangan, dan komunikasi. Namun, sistem ini memerlukan pendingin kriogenik berukuran besar dan boros energi untuk mempertahankan kondisi kuantumnya yang sangat sensitif.

Kebutuhan pendinginan ekstrem dan perangkat elektronik bersuhu ruang selama ini menjadi hambatan utama dalam peningkatan skala, penambahan jumlah qubit, serta pengembangan komputer kuantum menuju tahap komersialisasi.

Baterai kuantum sendiri merupakan perangkat penyimpan energi berbasis cahaya yang dapat diisi ulang melalui paparan cahaya maupun oleh komponen mesin itu sendiri ketika terintegrasi dalam sistem komputer kuantum.

“Kami menghitung bahwa sistem yang dioperasikan dengan baterai kuantum akan menghasilkan panas yang jauh lebih rendah, membutuhkan lebih sedikit kabel, dan mampu menampung lebih banyak qubit dalam ruang fisik yang sama,” kata Quach.

Ia menegaskan temuan tersebut merupakan langkah penting menuju pengembangan komputer kuantum yang praktis dan dapat ditingkatkan skalanya. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN