Saturday, June 6, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Gelembung AI Bisa Ganggu Stabilitas Ekonomi, Pakar Teknologi Angkat Bicara

Mistar.idRabu, 10 Desember 2025 09.54
EH
gelembung_ai_bisa_ganggu_stabilitas_ekonomi_pakar_teknologi_angkat_bicara

Ilustrasi AI. (Foto: Zabala/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Para ahli memperingatkan kemungkinan munculnya gelembung Artificial Intelligence (AI) yang bisa mengganggu stabilitas ekonomi. Istilah gelembung dipakai ketika harga sebuah aset melesat jauh melebihi nilai sebenarnya, sehingga sewaktu-waktu dapat runtuh dan kehilangan nilai secara besar-besaran.

“Saya paham betapa menggugahnya menulis soal gelembung. Memang, ada beberapa aspek AI yang menurut saya sedang sedikit ‘menggelembung’ saat ini,” ujar CEO OpenAI, Sam Altman.

Di Silicon Valley, diskusi soal apakah perusahaan-perusahaan AI dihargai terlalu tinggi terus berlangsung. Kekhawatiran muncul bahwa valuasi mereka tidak lagi wajar. Altman memprediksi sebagian investor akan membuat keputusan keliru dan sejumlah startup yang kualitasnya biasa saja tetap memperoleh pendanaan besar. Namun, ia mengklaim OpenAI berbeda karena menurutnya perusahaan itu memang sedang menciptakan sesuatu yang substansial.

Peringatan mengenai potensi gelembung AI juga disampaikan Bank of England, IMF, serta CEO JP Morgan, Jamie Dimon. Jerry Kaplan, salah satu pionir AI, mengaku telah mengalami empat kali gelembung teknologi. Ia lebih cemas saat ini karena besarnya aliran dana yang beredar melebihi masa dot-com boom.

“Jika gelembung itu pecah, dampaknya akan sangat parah, bukan hanya bagi pelaku industri AI, tetapi juga bagi perekonomian secara keseluruhan,” ujarnya, dikutip dari BBC, Rabu (10/12/2025).


Di sisi lain, Prof Anat Admati dari Stanford menilai bahwa fenomena gelembung sangat sulit diprediksi. “Menentukan kapan gelembung terjadi itu sangat sulit. Anda bahkan tidak bisa memastikan bahwa Anda sedang berada di dalamnya sampai gelembung itu benar-benar pecah,” katanya.

Pendapat CEO Nvidia dan Google

CEO Google, Sundar Pichai, mengatakan setiap perusahaan akan merasakan dampak jika gelembung AI betul-betul pecah. Dalam wawancara dengan BBC, ia menyebut meski pertumbuhan investasi AI adalah momentum luar biasa, unsur ketidakwajaran tetap ada dalam euforia saat ini.

Ketika ditanya apakah Google bisa sepenuhnya terlindungi, Pichai menyatakan bahwa perusahaannya cukup kuat menghadapi kemungkinan gejolak tersebut, namun ia tetap memberi peringatan, “Saya rasa tidak ada perusahaan yang benar-benar kebal, termasuk kami.”

Ia menambahkan bahwa keunggulan Google membuat perusahaan berada pada posisi lebih kokoh jika terjadi goncangan di pasar AI.

Sementara itu, CEO Nvidia, Jensen Huang, menampik keras anggapan bahwa gelembung AI sedang terbentuk. “Banyak orang membahas bubble AI. Dari sudut pandang kami, situasinya terlihat sangat berbeda,” ujarnya.

Pernyataan Huang dapat dimaklumi karena Nvidia berada di pusat perkembangan AI dan nilai perusahaan melonjak hingga mencapai kapitalisasi pasar USD 4,5 triliun berkat tingginya permintaan GPU.

Sikap tegas Huang penting karena pelanggan utama Nvidia adalah para raksasa cloud, seperti Amazon, Microsoft, Google, dan Oracle, serta pengembang model AI seperti OpenAI, Anthropic, xAI, dan Meta.

Huang menjelaskan tiga alasan mengapa ia yakin tidak terjadi gelembung. Pertama, berbagai sektor seperti pemrosesan data, periklanan berbasis rekomendasi, mesin pencarian, dan rekayasa teknik kini beralih ke GPU karena membutuhkan kemampuan AI.

Kedua, AI tidak hanya disematkan ke aplikasi yang sudah ada, tetapi juga mendorong lahirnya aplikasi baru sepenuhnya.

Ketiga, kemunculan Agentic AI yang mampu menalar dan merencanakan akan menuntut kapasitas komputasi yang jauh lebih besar di masa depan. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN