Thursday, June 25, 2026
home_banner_first
OPINI

Dari Gunung Sampah ke Energi Bersih, TPA Terjun Medan Ubah Limbah Jadi Biomassa

Mistar.idKamis, 25 Juni 2026 pukul 17.37 WIB
dari_gunung_sampah_ke_energi_bersih_tpa_terjun_medan_ubah_limbah_jadi_biomassa

Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan. (Foto: Naomi/Mistar.id)

news_banner

Ditulis oleh Naomi

Sampah mungkin menjadi benda yang paling cepat ingin disingkirkan dari kehidupan sehari-hari. Setelah dibuang, jarang ada yang memikirkan nasibnya. Padahal, di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, sampah tidak hanya berakhir sebagai gunungan limbah.

Di tempat ini, sebagian sampah organik justru diolah menjadi biomassa atau bahan bakar alternatif yang dimanfaatkan untuk mendukung pembangkitan listrik. Melalui pemanfaatan tersebut, sampah tidak hanya membantu mengurangi timbunan limbah, tetapi juga berkontribusi mengurangi penggunaan batu bara. Langkah ini sejalan dengan upaya Indonesia menuju target Net Zero Emission 2060.

Upaya tersebut merupakan bagian dari program produksi Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP) yang dikembangkan melalui kolaborasi Pemerintah Kota Medan dan PT PLN Indonesia Power UBP Pangkalan Susu.

Proses pengolahan biomassa dimulai dari pemilahan sampah organik yang masuk ke TPA Terjun. Sampah yang masih memiliki kandungan organik kemudian difermentasi menggunakan larutan bioaktivator untuk mempercepat proses penguraian.

Setelah itu, material dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil, dikeringkan, lalu dipadatkan hingga menjadi biomassa berbentuk BBJP. Biomassa yang telah dikemas dalam karung kemudian dikirim ke PLTU Pangkalan Susu di Kabupaten Langkat.

Di pembangkit listrik tersebut, BBJP dimanfaatkan dalam program co-firing, yaitu pencampuran biomassa dengan batu bara dalam proses pembakaran. Melalui metode ini, sebagian kebutuhan batu bara dapat digantikan oleh bahan bakar yang berasal dari limbah organik.

Sekilas proses tersebut tampak sederhana. Namun, di balik perjalanan sampah dari TPA menuju ruang bakar pembangkit listrik, tersimpan manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar pengelolaan limbah.

Dampaknya mulai terlihat. Pemanfaatan biomassa dari TPA Terjun membantu PLTU Pangkalan Susu menghemat penggunaan batu bara hingga 148.921 ton sepanjang tahun 2024.

Angka tersebut menunjukkan bahwa sampah yang selama ini dianggap sebagai beban lingkungan ternyata mampu menjadi sumber daya yang mendukung ketahanan energi nasional.

Manfaatnya tidak berhenti pada penghematan bahan bakar fosil. Pemanfaatan biomassa juga membantu menekan emisi karbon yang dihasilkan pembangkit listrik. Dengan kata lain, sampah tidak hanya diselesaikan sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga diubah menjadi bagian dari solusi energi yang lebih bersih.

Bagi Kota Medan, manfaat tersebut turut dirasakan dari sisi pengelolaan sampah. Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan mencatat produksi sampah mencapai sekitar 1.700 ton per hari.

Proses pengolahan sampah organik di TPA Terjun yang diubah menjadi biomassa untuk kebutuhan co-firing di PLTU UBP Pangkalan Susu. (Foto: Naomi/Mistar.id)

Jika seluruhnya hanya ditimbun, kapasitas TPA akan semakin terbatas dan risiko pencemaran lingkungan terus meningkat. Karena itu, pemanfaatan sampah sebagai biomassa menjadi pendekatan yang mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni mengurangi timbunan limbah dan mendukung kebutuhan energi.

Persoalan yang dihadapi Kota Medan sejatinya juga dialami banyak daerah lain di Indonesia. Seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, volume sampah terus meningkat sehingga membutuhkan sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan.

Sampah tidak lagi cukup hanya dikumpulkan dan dipindahkan ke tempat pembuangan akhir, tetapi perlu diolah agar kembali memberikan manfaat.

Gagasan ini sejalan dengan implementasi Asta Cita pemerintah yang menargetkan pengelolaan 50 persen sampah nasional pada 2025. Target tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA, tetapi juga mendorong pemanfaatan sampah agar memiliki nilai tambah ekonomi dan lingkungan.

Apa yang dilakukan di TPA Terjun memperlihatkan bagaimana target tersebut dapat diwujudkan di tingkat daerah. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pencemaran diolah menjadi biomassa dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar pendamping batu bara pada pembangkit listrik.

Dengan cara itu, pengelolaan sampah tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap penyediaan energi.

Program biomassa di TPA Terjun bahkan menjadi proyek percontohan pertama PLN di Sumatera Utara yang memanfaatkan sampah perkotaan untuk kebutuhan co-firing. Meskipun porsi biomassa masih relatif kecil dibandingkan batu bara, langkah tersebut menunjukkan bahwa transisi energi dapat dimulai dari sumber daya yang tersedia di sekitar kita.

Kontribusi tersebut semakin bermakna ketika dilihat dalam skala yang lebih luas. Sepanjang tahun 2024, implementasi co-firing biomassa di berbagai PLTU PLN menghasilkan sekitar 1,67 juta MWh listrik hijau. Program tersebut memanfaatkan sekitar 1,62 juta ton biomassa dan membantu menurunkan emisi karbon hingga sekitar 1,87 juta ton CO₂.

Data tersebut menunjukkan bahwa biomassa bukan sekadar solusi pengelolaan limbah. Pemanfaatannya telah menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi Indonesia melalui penggunaan sumber daya lokal yang lebih berkelanjutan.

Ketahanan energi tidak hanya berbicara tentang ketersediaan listrik hari ini, tetapi juga kemampuan suatu bangsa menjaga pasokan energi di masa depan.

Upaya tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah dalam meningkatkan pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Seperti yang disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, dalam Indonesia Sustainable Forum 2025.

Ia menegaskan komitmen Indonesia untuk terus meningkatkan penggunaan EBT sebagai bagian dari upaya mencapai target Net Zero Emission pada 2060.

Komitmen itu tidak selalu diwujudkan melalui pembangunan pembangkit baru berskala besar. Dalam banyak kasus, transisi energi justru dimulai dari pemanfaatan sumber daya yang selama ini terabaikan, termasuk sampah.

Di sinilah program biomassa di TPA Terjun menemukan relevansinya. Sampah yang sebelumnya hanya dipandang sebagai residu memperoleh fungsi baru sebagai sumber energi. Nilainya tidak berhenti ketika dibuang, melainkan kembali masuk ke dalam siklus pemanfaatan yang lebih produktif.

Cara pandang tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang terus didorong pemerintah. Berbeda dengan pola ambil-pakai-buang, ekonomi sirkular berupaya mengembalikan nilai dari material yang telah digunakan agar dapat dimanfaatkan kembali.

Seperti yang pernah ditegaskan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, ekonomi sirkular menjadi salah satu pilar penting transformasi industri hijau Indonesia.

Dalam konteks TPA Terjun, konsep tersebut terlihat nyata. Sampah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan memperoleh kehidupan baru sebagai sumber energi yang mendukung ketahanan energi sekaligus masa depan energi bersih Indonesia.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN